ABOUT GABRIELLA

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Mauris sodales, libero vitae sollicitudin pretium, lectus augue tempor turpis, et pharetra velit magna a sapien. Etiam accumsan suscipit justo, id volutpat risus varius sit amet. Curabitur semper mi faucibus arcu hendrerit lobortis. Aenean ut ante vel elit scelerisque sodales vitae et velit. Maecenas suscipit nunc lorem.
Read More
  • Labels
  • Fashion

    JOIN US ON INSTAGRAM

    Recent in Sports

    Design

    Posting Komentar
    Membaca, Malas?

    Ternyata aku bisa kangen dengan ocehanku yang nggak jelas. Pasca handphoneku hilang, aktivitas yang menyedot tenaga membuatku malas menyiksa tuts keyboard pc jadul milik ipar,aku lebih memilih menulis di buku unguku, di lembaran kertas yang acap kali hilang karena kecerobohanku, atau di sms yang kukirim kemana saja kukehendaki.
    Jiah,kayak gitu bercita-cita punya novel best seller. Hiks, tragis!
    Karena kedurhakaanku atas nikmat Robbuna, kemarin, Selasa 4 Oktober 2011, aku ditampar oleh Robbuna melalui seuntai kata dari dosen filsafatku. Haah, diam-diam aku meneteskan air mata di sela-sela kuliah.
    “Anda bisa membayangkan bagaimana cara orang buta membaca?”
    “Dengan bantuan huruf Braille,” aku yang senantiasa duduk di bangku paling depan menjawab dengan pelan, tak bersemangat karena aku terserang kantuk yang luar biasa.
    “Nah, berapa harga buku-buku khusus berhuruf Braille?”
    Aku diam, memanggil memori di otak yang menyimpan informasi tentang Al-Qur’an untuk tunanetra yang pernah kubaca beberapa tahun silam. Tapi belum juga kudapatkan memori itu, yang kuingat, ada seorang tunanetra di Solo yang membuka TPA khusus tunanetra. Yang pasti, harga Al-Qur’an braille itu mahal.
    “Baik, bukan harganya. Berapa jam Anda membaca setiap hari?”
    “Lima belas menit, tergantung mood…” teman-teman berteriak bersahut-sahutan. Aku memilih diam, penasaran dengan apa yang akan di katakan Pak Benny, dosen filsafat
    “Lalu, apa Anda muslim?”
    “Iya!” seisi kelas menjawab dengan kompak.
    “Apa surat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad?” Pak Benny menuju ke papan tulis, menulis sesuatu di sana, “Iqra’”
    Aku mengedarkan pandangan di kelas, semua temanku membisu.
    “Bangsa Jepang maju karena budaya membacanya. Mereka membaca di halte, di trem, di kereta apai, bahkan di toilet pun mereka sempat membaca.” Pak Benny menatap seisi kelas, aku merasakan sebuah tamparan halus menyapa, “Yang pantas disebut muslim itu orang Jepang, atau Anda yang berjilbab?”
    Lagi-lagi aku hanya mampu terdiam, “Padahal, surat pertama yang diturunkan itu perintah untuk membaca!”
    “Jika Anda mengaku muslim, membacalah, Anda akan semakin bijak. Anda akan tahu, kenapa si A sholatnya begini, si B begini, si C begitu.” Aku tertampar, merenungi semangatku untuk membaca yang tidak sebesar semangatku untuk fb-an, ngobrol, dsb. “Saya heran, kok ya ada orang disuruh membaca mengaku pusing duluan ketika melihat kumpulan huruf-huruf itu.”
    “Jika Anda berjilbab, dan Anda suka mebaca, jempol untuk Anda!”
    Dialog itu terus saja menari-nari di otakku, membayang di sepanjang perjalanan pulang, kembali menghantui saat beranjak tidur. Dan sekarang, memaksaku untuk menyiksa tuts keyboard sekaligus memanggil memori tentang harga Al-Qur’an Braille. 2.5 Juta Rupiah! Kalau aku ak salah ingat!
    Robbana.
    Betapa durhakanya aku!
    Bagaimana tidak? Aku mempunyai mata yang sehat, bahkan bisa dibilang sangat sehat, mata ini menemaniku begadang membaca buku tanpa kesulitan, tanpa memakai kacamata, tetapi semangatku untuk membaca Al-Qur’an masih jauh dibawah semangat pahlawan tunanetra membaca Al-Qur’an Braille.
    Bentuk Al-Qur’an Braille yang tertampang di Koran itu melekat kuat, kutaksir sebesar album foto pernikahan kakakku, sebesar ensiklopedi dunia yang pernah kudapatkan di perpustakaan SMA-ku dulu, atau sebesar kitab-kitab referensi yang ada di lantai tiga perpustakaan kampus. (Yang sampai saat ini aku belum menyentuhnya. Bukan karena aku malas berhadapan dengan huruf-huruf Arab, tetapi karena aku baru belajar bahasa Arab, aku sangat terobsesi untuk bisa membaca kitab-kitab itu suatu saat kelak)
    Dan aku? Aku mempunyai Al-Qur’an saku hadiah dari Mbak Eni yang bisa kubawa kemana-mana, aku punya Al-Qur’an sedang yang bisa kubaca saat ba’da shalat, aku punya Al-Qur’an terjemahan yang bisa kubaca saat aku ingin mengetahui kandungan ayatnya, pun ada Mbak Eni yang siap meminjamkan koleksi tafsir terjemahannya saat aku butuh. Tetapi, dimana semangatku untuk bersyukur ata mataku yang sehat?
    Astaghfirullahal’adzim. Ampuni hamba, Ya Robb. Ampuni kekufuran hamba.
    “Membaca itu tidak sekedar membaca buku, membaca huruf. Alam ini terbentang ayat-ayat Qauniah yang sangat menakjubkan,yang siap diabaca kapan saja.” Kesimpulan dari kata-kata Pak Ary Ginanjar dalam bukunya,ESQ semakin menampar kedurhakaanku.
    Fabiayyi ‘alaa I robbikumaa tukadzibaan. Dan nikmat mana lagi yang kau ragukan?

    Lereng Merbabu, 05 Oktober 2011
    Widi Utami
    Widi Utami
    Pengagum pelangi, penikmat coklat, penggila ungu yang mencoba untu terus berbagi sebagi wujud untuk mensyukuri nikmat Robbuna yang luaar biasa.

    Related Posts

    Posting Komentar