Aku mengetik
sebuah pesan untuk Pak Kung; seorang owner
SOL di Ibukota sana. Terbawa
kebiasaan di PNBB yang serba nyeplos, aku menyapa pak Kung tanpa tedeng aling-aling.
Tanya-tanya tentang jalur SOL, ada rencana untuk kirim soL buat keluarga abang
di Bekasi.
Saat aku
menyempatkan melihat percakapan sembari membantu teman mencari bahan untuk
tugasnya, tiba-tiba temanku nyeletuk: “Itu pacar kamu, ya Wid?”
Apa?
Pacar?
Aku cuma nyengir.
Temanku itu tidak
hanya sekali bertanya kepadaku tentang pacar, berkali-kali. Kali ini bertanya
saat dia iseng melihat obrolan di layar Lepingu. Sayangnya yang dia curigai
adalah pak Kung, Akung Krisna, yang
sangat kusegani. Beliau sudah punya putri yang sangat cerdas, si Icha Marica,
yang acapkali membuatku tertawa geli ketika pak Kung menulis tentangnya di Fb.
“Hahaha, lihat
dong, masa sama pacar mau pesen siomay?” ujarku sambil terus browsing. “Lagian
beliau sudah punya putri, masa aku pacaran sama yang sudah punya istri?”
Aku hanya tertawa
geli, rupanya teman-teman sekelasku masih saja penasaran apa aku punya
pacar. Kadang aku menjawab, ‘tidak’,
namun lebih sering geleng-geleng kepala sembari tersenyum.
Di lain waktu,
ada seorang teman yang usilnya minta dijitak, iseng melihat dengan siapa aku
sms-an. Pada layar nokia hitamku tertulis:
1 New Messages
Kakak
Sontak, dia
melonjak. “Whoi, Widi punya pacar. Kakak!”
Aku melotot,
“Emang kakak itu artinya pacar, ya?”
Padahal yang
kusimpan di kontak list dengan nama Kakak itu kak Ida, kakak di Kotabumi sana.
Saat aku jengkel
dengan teman sekelompok yang seenak udel, aku berbincang dengan Rangga, teman
semasa SMA. Lagi-lagi ada seorang teman yang iseng melongok ke layar lepingu,
dan tertegun dengan obrolan kami yang super geje. Mana lagi ngobrolin tentang
pacar dan jodoh pula. Hahaha, aku menahan tawa seraya mengetik pesan untuk
Rangga: temanku mendelik liat obrolan ini!
Pertanyaan yang
terus-menerus ini kadang kala membuat renungan yang kudiskusikan dulu dengan
seorang saudara di chatting saat mig33 sedang booming kembali methungul di
kepala. Pacar.... ya, tentang pacar.
Entah berawal
dari obrolan apa, tiba-tiba aku menyimpulkan bahwa aku punya pacar sepanjang
hidup. Nggak Cuma satu, tetapi dua. Nggak sebatas menemani setiap malam minggu,
tetapi setiap saat, setiap detik yang kulalui.
Jika pacar putus-nyambung,
maka pacar yang ini nggak kenal putus sampai nyawa lepas dari jasad. Menemani
diri mungkin semenjak dari bayi tanpa mau lepas sesaat pun.
Jika pacar
dilupain dikit saja ngambek nggak ketulungan, maka pacar yang ini nggak kenal
kata ngambek meski dilupain sekian tahun, ataukah sepanjang hidup. Dia tetap
nemenin kemanapun kita pergi.
Nggak sekedar tahu
apa saja aktivitas kita, namun mencatat dengan teliti. Mencatat segala hal
tentang kita sampai sedetil-detilnya, yang mungkin kita sendiri tak lagi ingat
dan di buang di recycle bin otak, bahkan delete permanen.
Dia adalah
malaikat Rakib dan Atid.
Yang begitu
setia, namun lebih banyak dilupakan.
Benar-benar.
Diskusi ini membuatku begadang semalaman. Kemudian membuat puisi nggak jelas
dan memposting di facebook. Menuai beberapa kritik, namun lebih banyak yang aku
punya pacar, ketahuan cuma baca judulnya doang.
Terus, masih
ingin tahu siapa pacarku? Tunggu undangannya saja, ya. #Gedubrak!
Mustika Ungu
Di tengah rintik
hujan, menunggu bertemu adik-adik belalang di malam Minggu.
3 Muharam 1434 H

Posting Komentar