Kau jauh, tetapi bagiku menempuh
jarak untuk menemuimu lebih dekat daripada ketika aku harus menempuh jarak
untuk menemui kak Ilham yang tak pernah kurasakan sekalipun hembusan nafasnya.
Untuk menemuimu tak pernah aku berfikir tentang rintangan-rintangan yang harus
kulalui. Tak seperti ketika aku harus menemui alm kakakku, aku harus berfikir
berulangkali, menata hati yang hampir karam, sebab seringkali aku tak mampu
menguasai diri. Apalagi disana ada nisan bertuliskan nama alm kakung, yang mau
tidak mau mengingatkanku tentang mimpi satu itu; telingaku.
Aku mencintai alm kak Ilham,
menyayanginya seperti halnya aku menyayangi orang-orang terdekatku. Padahal aku
tak pernah sekalipun bertemu. Jangankan bertemu, rentang jarak kami sangat
jauh. Berbilang tahun antara tahun ketika ia berkalang tanah dengan sebulir air
mata ayah, dan ketika aku mulai mengenal dunia ini.
Barangkali Allah telah
mengenalkanku dengan kak Ilhamku di dunia sana jauh sebelum aku tertanam di
rahim ibu. Aku mencintainya, sungguh.
Aku merasa memilikinya ketika aku
berada di puncak kesendirian. Ketika orang-orang sibuk dengan dunianya. Ketika
aku terasing dengan duniaku yang sepi. Pun, ketika aku terpuruk dengan telinga
yang selalu membayangi kemanapun langkahku pergi.
Aku merasakan kehadirannya.
Seperti yang kubaca di buku
cerita saat aku masih berseragam merah jambu itu, bahwa seorang kakak laki-laki
akan sangat sayang kepada adik kecilnya.
Kata ayah, kak Ilham gemuk,
cakep, putih. Tetap ganteng meski nyawanya tak bersemayam di badannya lagi. Bagus,
kata ibu. Dan aku pernah menyalahkan takdir kenapa rumah sakit umum saat itu
menelantarkan ibu hingga ibu harus dirujuk ke Semarang, rumah sakit provinsi.
Detak jantung di rahim ibu berhenti. Kak Ilham pergi sebelum ia merasakan
bagaimana udara di dunia ini.
Dhawuh yai menyadarkanku dari
persepsi bodohku, kak Ilham adalah tabungan ayah-ibu. Tabungan yang-insya Allah
akan menolongnya ketika hari akhir bertandang.
Aku masih saja tak bisa berhenti
mencintainya. Cinta seorang adik kepada kakaknya yang ingin dijumpainya, meski
di alam yang tak lagi sama. Yang memacuku untuk terus memperbaiki diri, agar
bisa merasakan dekapan seorang kakak yang selalu dirindui kehadirannya.
Berimajinasi tentangnya ketika tenggelam dalam keterpurukan.
Rupanya Allah tak menunggu aku
berada di alam lain untuk mengabulkan pintaku. Allah mengirimkanmu. Kau, yang
berada di seberang lautan. Yang telah membuat orang-orang tercengang tentang
ketulusanmu menyayangiku. Yang membuatku semakin yakin bahwa mereka, mbak yang
selalu kurindu, tidak berkurang sedikit pun kasih sayangnya untukku. Hanya
terhalang dengan kesibukan mereka, kewajiban mereka terhadap keluarganya.
Lalu, untuk seorang kakak yang
hanya kukenal melalui cerita dan kuburnya saja aku tak pernah bisa berhenti
mencintainya. Bagaimana denganmu yang pernah kurasakan kasih sayangmu?
Aku merindukan kehasiranmu.
Jarak ternyata bukan penghapus
rasa. Ianya justru menjadi pupuk rindu, mebuat rindu ini semakin memuncak.
Aku berharap, semoga kerinduan
ini menjadi pemacu bagiku untuk selalu memperbaiki dir.
Rindu ini, membuatku tak sabar
untuk segera menghadap, merapalkan doa-doa yang terukir namamu.
Maghrib, 17 Maret 2013

Posting Komentar