ABOUT GABRIELLA

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Mauris sodales, libero vitae sollicitudin pretium, lectus augue tempor turpis, et pharetra velit magna a sapien. Etiam accumsan suscipit justo, id volutpat risus varius sit amet. Curabitur semper mi faucibus arcu hendrerit lobortis. Aenean ut ante vel elit scelerisque sodales vitae et velit. Maecenas suscipit nunc lorem.
Read More
  • Labels
  • Fashion

    JOIN US ON INSTAGRAM

    Recent in Sports

    Design

    Posting Komentar
    Mencari Gemerincing Receh dari Gedebok Pisang
    Oleh: Mustika Ungu

    Aku sangat bersyukur di besarkan di desa, meski sekarang tempat tinggalku sudah tak layak disebut desa lagi. Disinilah aku belajar banyak hal. Belajar bangkit saat terperosok di selokan, Belajar berlari saat harus mengejar ketertinggalan, yang paling kukenang; belajar bersahabat dengan alam.
    Aku kecil adalah anak tomboy, Teman-teman sepantaran laki-laki semua. Sangat jarang aku bermain dengan mbak-mbak, males, biasanya aku cuma dijadikan pupuk bawang belaka.
    Maka, aku pun terseret arus permainan laki-laki. Memanjat pohon, mobil-mobilan, reog-reog-kan, perang-perangan, tak ketinggalan menyusuri tegalan.
    Saat menyusuri tegalan inilah kami iseng mencari gedebok pisang untuk dikeringkan. Gedebok yang sudah kering bisa kami jual ke tengkulak, hitung-hitung buat beli temulawak atau modal memasak massal. Biasanya kami menjelajah tegalan saat musim panas, musim hujan jalanan becek, pun waktu untuk mengeringkan gedebog menjadi sangat lama.
    Berbekal sebuah golok, kami menjelajah tegal demi tegal untuk mendapatkan sebatang gedebog pisang yang sudah ditebang. Kami menyusuri jalan setapak, tak perduli mau ke mana, ikuti saja kaki melangkah. Rombongan dibagi menjadi beberapa kelompok, satu kelompok  terdiri dari dua orang. Aku biasanya mendapat pasangan ‘sisa’, tak bisa memilih pasangan sendiri.
    Jangan sangka memisahkan lembaran gedebog itu mudah, kami harus berhadapan dengan cacing, siput bahkan bayi kelabang yang asyik bersembunyi di lembaran gedebog yang sejuk. Sst, aku sangat akrab dengan cacing. Pernah, aku belepotan tanah karena mencari cacing yang bukan main aduhainya dibalik tanah gembur. Gaya luguku; sekedar membantu teman-teman, daripada guling-guling di tanah karena tidak diajak Ibu ke pasar. Suatu saat, aku tahu  jika cacing itu dijual. Alamaak!
    Eh, kok ngelantur. setelah bergulat dengan cacing dan kawan-kawan, kami harus bersabar menunggu gedebog itu kering. Tawakalku  benar-benar diuji di sini. Gedebog itu tak mungkin kami bawa pulang. Berat! Puluhan lembaran gedebok basah, mana bisa kami gotong dengan tubuh yang ringkih ini. Maka, gedebok-gedebok itu kami tinggal di area tegalan. Nanti, tiga atau empat hari akan kami ambil.
    Entah karena otak kami yang terlampau lugu, ataukah memang tawakal yang sudah menancap kuat. Kami tak perduli dengan nasib gedebok itu. Pokoknya tiga atau empat hari lagi akan kami ambil, dan kami jemur kembali di rumah.
    Karena kepasrahan itu, kami hampir tak pernah kecolongan gedebog yang kami jemur di area tegalan. Justru saat aku yakin gedebog yang kujemur itu aman, karena dekat dengan rumah Mbokdhe Ti, Budheku, gedebog yang mencapai 100 lembar itu hilang, hanya menyisakan belasan gedebog kerut-kerut, gedebog kualitas 2nd yang hanya dihargai 1/2 gedebog nomor wahid! Saat kutanyakan ke empunya rumah, beliau tidak tahu. Bapak menduga, itu tengkulak tamak yang mengambil gedebog milikku.
    Menyesal? Pasti. Saat itu, harga minyak tanah hanya 600 rupiah perliter. Harga gedebog nomor wahid 100 rupiah perlembar. Jadi dengan 6 lembar gedebog aku bisa membeli 1 liter minyak tanah untuk modal masak nasi goreng. Tapi aku kecil hanya termenung, lantas peristiwa hilangnya gedebog itu akan menjadi cerita seru saat berkumpul bersama keluarga besar. Mengeruk hikmah dibalik cerita. Bukankah jika dinalar, gedebog yang berada di samping rumah Mbokdhe Ti lebih aman?
    Ahh. Aku merindukan saat-saat itu. Saat di mana aku begitu menghayati arti tawakal.
    -END-
    Widi Utami
    Widi Utami
    Pengagum pelangi, penikmat coklat, penggila ungu yang mencoba untu terus berbagi sebagi wujud untuk mensyukuri nikmat Robbuna yang luaar biasa.

    Related Posts

    Posting Komentar