Saling memberi hadiah, mengeratkan ukhuwah.
Kalimat itulah yang terekam kuat di otakku, kala aku mempelajari tentang seluk-beluk ukhuwah. Aku lupa bagaimana persisnya hadits yang menjelaskan tentang kesimpulanku itu, namun setidaknya aku tak lupa bahwa saling memberi hadiah adalah sunnah Kanjeng Rosul.
Bonus puasa satu hari memberiku kesempatan untuk membersihkan kamarku dan kamar sebelah. Membuka-buka diary lama, membongkar kotak demi kotak. Dan sampailah aku ke kardus besar yang belum sempat kupindah dari kamar. Kardus mie instan yang berlapis kertas coklat dengan tempelan stiker jasa paket ekspres Rosalia Indah. Ya, paket cinta dari kakakku di Andalas.
Sabtu menjelang Maghrib, aku kelelahan karena tak ada jemputan sepulang OPAK. Kamarku berantakan, jangankan kamar, ruang sholat pun tercecer potongan kertas tugas OPAK. Kejenuhan melanda, aku menyamber si hitam di meja belajar. Ya, handphone yang telah menemaniku semenjak lulus SMP ini harus kutinggal di rumah. Enam pesan diterima, ada satu pesan yang membuat mataku berbinar bungah.
Paket telah diterima. Trims. Rosalia Sala3
Alhamdulillah! Aku lari menuju dapur-dapur ala kampung, dengan tungku kayu dan kepulan asap-, menemui Ibu untuk mengabarkan bahwa ikan teri pesanannya telah nangkring di agen Rosalia. Masih dengan seragam OPAK, aku menghadang ipar di jalan agar mengantarkanku ke Pos Tingkir.
MasyaALLAH. Mulutku menggumam, menceracau nama-Nya. Bukan karena paket yang berisi bom, namun banyaknya kiriman yang sukses membuat Ibu siap-siap marah. Apa pasal? Paket itu beratnya mencapai 8 Kg, euy!
Aku bungah. Sungguh. Ada pendar dalam dadaku yang tak bisa kudeskripsikan dalam untaian kata. Syukur, haru, bahagia menjejal dalam segumpal darah bernama jantung. Jazakumullahu ahsanal jaza', terimakasih, semoga Robbuna membalas dengan yang lebih baik. Kiriman dari tiga kakak di pulau seberang sana, yang membuat beberapa sahabat heran karena ada kripik khas Lampung dan tekwan di rumah. Sebuah gamis hitam yang membuat ibu menciumku berkali-kali. Bros kupu dan strawberry yang membuat teman kampusku ngiler, strawberry-nya lezat, katanya. Sekaleng teri tawar, sekardus bros titipan, tak ketinggalan dua eksemplar Mutiara Amaly untukku seorang.
Banyak? Iya, aku sampai bingung ini makanan yang mau ngabisin siapa. Dan akhirnya, aku memutuskan untuk memasukkan dalam toples sebagai hidangan lebaran.
Hamdanlillah, ya Robb.
Sungguh, paket ini membuatku terharu. Bagaimanapun aku belum pernah bertatap muka dengan kakakku itu. (Aku yakin kita akan bertemu, InsyaALLAH)
Kebaikan-kebaikan saudaraku, hadiah-hadiah yang kuterima meski hanya seulas senyum dalam sms, membuatku terpacu untuk memberi yang lebih. Aku bermimpi untuk membuat setiap saudaraku merasakan hal yang sama denganku; pendar kebahagiaan yang tak terdeskripsi dalam kata.
Apalagi di momen lebaran ini, momen dimana kesempatan berkumpul terbentang luas, aku dan sepupuku suka berlomba banyak-banyakan salam tempel (Dan biasanya aku kalah, aku tak pandai menyimpan uang). Ups! Ngelantur, nggak nyambung, ini mah minta bukan ngasih!
Berapa banyak paket cinta yang telah kau sebar? :)
MustikaUngu
1 Syawal 1432 H
#Yang lain minta, saya mau ngasih saja. Kalian tak perlu meminta maaf kepada saya, sudah saya kasih maaf plus doa. Halah, ngacau!
Maaf lahir batin, ya ukhtina, akhina. Taqoballahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.
Hati-hati, syetan sudah merdeka lagi!
*catatan sebelum sowan ke rumah sesepuh.

Posting Komentar