Pancasila
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. ?
Sampai di butir dua ini, aku merasakan hal aneh: otakku bleng! Aku tak bisa mengingat pancasila butir ke dua, bisa ditebak, kakak screener analisis sosial mempermalukanku habis-habisan. Untung, kami hanya berempat. Mau ditaruh dimana mukaku jika aku di hadapan pembina pramuka dan guru kewarganegaraan? Aku Bantara, Gudep Kodim, SBH, tak pernah membolos upacara. Masa iya pancasila yang jadi makananku saat upacara, pengambilan sumpah, persyaratan SKU, bisa lupa begitu saja.
Aku bengong, asli! Aku sampai melototin kakak cungkring berambut bonding sebahu. Hellow, please give me a minute to remember! Sayang, kakaknya nyerocos melulu, hatiku teriak; karepmuuu!
Cas cis cus. Akhirnya kelar juga setelah melewati 30 menit-an, memang sudah rejekiku mendapat kakak screener yang hobi ngomong, ups, maaf. Kakaknya sendiri ngakuin kok, kalo dia paling lama ngomongnya di antara screener lain. Hihi. Sampai di luar.
Pancasila
satu, ketuhanan Yang Maha Esa. Dua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Lhoh, tuh, hafal! Lalu, kemana otakku tadi? Aku pun jalan sambil senyum-senyum nggak jelas. Hihi, orang gila? Yoi, ini jadi tertawaan siapa saja yang kuceritain! WiDut kalau kumat lemotnya emang suka gini. Hihi
Nah, saking lemotnya, saat aku di angkot baru sadar, kalau aku ditegur Robbuna. Hiks!
Tahu nggak? Aku benar-benar malu. Ah, kok malu lagi? Ya, bagaimana tidak?
Jika pancasila yang notabene jadi ritual wajib saat upacara pun bisa lupa, bagaimana dengan pertanyaan ketika di liang lahat?
Sopo pangeranmu? Pangeran kula Gusti Allah.
Sopo nabimu? Nabi kulo Muhammad Rosulullah.
Opo Agomomu? Islam Agomo kulo.
Opo kitabmu? Alqur'an Kitab kulo.
Sst. Itu aku sempet mikir. Selama ini, waktuku lebih banyak buat buka facebook, novel, majalah! Coba, kalau pas ditanyain apa kitabmu? Facebook! Huaaa, bisa ditempeleng munkar nakir aku. Na'udzubillah, jangan sampai, ya Robb!
Hm, aku jadi inget. (Tuh, kan, apa kataku? Aku diingetin Robbuna!) ajaran yai untuk memperbanyak kalimat thoyibah. Eh, apa namanya? Tuh, kan, pelupa! Laa ilaa ha illallah, laa ilaa ha ilaa ha illallah, Muhammadurrosulullah.
Hush, Dut, kok? Kok mirip iringan jenazah?
Haaa, tahu lah, aku mau nyari tetek bengek opak! Silahkan tanya-tanya kyai facebook. Hellow, yai, help me to remember that!
Mustika Ungu
19 Ramadhan 1432 H

Posting Komentar