ABOUT GABRIELLA

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Mauris sodales, libero vitae sollicitudin pretium, lectus augue tempor turpis, et pharetra velit magna a sapien. Etiam accumsan suscipit justo, id volutpat risus varius sit amet. Curabitur semper mi faucibus arcu hendrerit lobortis. Aenean ut ante vel elit scelerisque sodales vitae et velit. Maecenas suscipit nunc lorem.
Read More
  • Labels
  • Fashion

    JOIN US ON INSTAGRAM

    Recent in Sports

    Design

    MAnggaku Panen Dini

    Posting Komentar

    Akhirnya, kegembiraanku membayangkan panen perdana mangga di depan rumah harus buyar. Buah yang membuatku rajin memelototi bunganya ketika lebaran tiba, kini hanya tersisa tiga biji.
    Mangga itu berakhir mengenaskan.
    Bapak membuatku kaget pagi itu, “Nduk, arep maem pelem ora?”
    “Emange mpun mateng?”
    “Sudah, tuh di depan.” Telunjuk bapak menunjuk ke tumpukan mangga di dekat jalan. Aku bersungut-sungut.
    “huu, dereng mateng kok mpun dipanen!” ujarku sembari menatap kasihan tumpukan mangga di depan tempat jualan bensin.
    “Diopek wong edan,”
    Aku tertegun. Mengamati mulut berkumis bapak. “Apa, Pak? Diopek wong edan?”
    Bapak mengangguk, kemudian menstarter motor untuk mengantarku sampai jalan raya. Sepanjang jalan aku termenung. Ngelamun.
    Ngapain coba kalau metik mangga cuma buat ditumpuk di depan?
    Kenapa nggak dibawa saja, lalu dimakan untuk sekedar mengganjal perut?
    Benar-benar orang gila, hatiku berbisik sembari menggeleng-keleng kepala. Padahal beberapa minggu lagi mangga itu bisa dipanen. Sayang? Banget, rasanya ingin nangis. Dik Tegar yang tahu mangga sudah dipetik pagi itu sudah berdiri mematung, matanya memerah menahan gemas. Entah dia ngamuk seperti kebiasaannya saat melihat yang tidak disukainya atau tidak, aku tak tahu, bapak sudah menyuruhku membonceng motor.
    Allah, ada apa ini? Tegurankah?
    Kepalaku berdenyut saat aku di colt menuju kampus. Bukan berfikir tugas-tugas yang bejibun, namun hanya berfikir kenapa orang gila itu berbuat kurang kerjaan dengan mangga di depan rumahku. Kenapa bukan di depan rumah Nanang yang lebih lebat buahnya. Kenapa mangga itu harus ditinggal, bukan dibawa saja?
    Deg!
    Memgumpulkan mangga, tanpa dimakan. Hanya mengumpulkan.
    Tidakkah dia berpikir bahwa ada orang yang lebih membutuhkan mangga itu? Bahkan rela menunggu berbulan-bulan hanya untuk menunggu mangga itu panen?
    Yaaa, namanya juga orang gila.
    Orang gila?
    Eh? Berapa hpku? Satu, dua! Pentingkah? Berapa bajuku? Satu lemari lebih, kupakai semuakah?  Berapa jilbabku? Kupakai semua jugakah? Berapa tas di rumah? Banyaaakkkk. Adhuuuuhhhh, kepalaku tiba-tiba berdenyut. Jantungku berdentum-dentum.
    Jangan-jangan aku tak lebih baik daripada orang gila itu. Bahkan lebih parah.
    Allahu, ighfirly.

    Mustika Ungu, 13 Desember 2012

    Widi Utami
    Widi Utami
    Pengagum pelangi, penikmat coklat, penggila ungu yang mencoba untu terus berbagi sebagi wujud untuk mensyukuri nikmat Robbuna yang luaar biasa.

    Related Posts

    Posting Komentar