Akhirnya,
kegembiraanku membayangkan panen perdana mangga di depan rumah harus buyar.
Buah yang membuatku rajin memelototi bunganya ketika lebaran tiba, kini hanya
tersisa tiga biji.
Mangga itu
berakhir mengenaskan.
Bapak membuatku kaget
pagi itu, “Nduk, arep maem pelem ora?”
“Emange mpun
mateng?”
“Sudah, tuh di
depan.” Telunjuk bapak menunjuk ke tumpukan mangga di dekat jalan. Aku bersungut-sungut.
“huu, dereng
mateng kok mpun dipanen!” ujarku sembari menatap kasihan tumpukan mangga di
depan tempat jualan bensin.
“Diopek wong
edan,”
Aku tertegun.
Mengamati mulut berkumis bapak. “Apa, Pak? Diopek wong edan?”
Bapak mengangguk,
kemudian menstarter motor untuk mengantarku sampai jalan raya. Sepanjang jalan
aku termenung. Ngelamun.
Ngapain coba
kalau metik mangga cuma buat ditumpuk di depan?
Kenapa nggak
dibawa saja, lalu dimakan untuk sekedar mengganjal perut?
Benar-benar orang
gila, hatiku berbisik sembari menggeleng-keleng kepala. Padahal beberapa minggu
lagi mangga itu bisa dipanen. Sayang? Banget, rasanya ingin nangis. Dik Tegar
yang tahu mangga sudah dipetik pagi itu sudah berdiri mematung, matanya memerah
menahan gemas. Entah dia ngamuk seperti kebiasaannya saat melihat yang tidak
disukainya atau tidak, aku tak tahu, bapak sudah menyuruhku membonceng motor.
Allah, ada apa
ini? Tegurankah?
Kepalaku
berdenyut saat aku di colt menuju kampus. Bukan berfikir tugas-tugas yang
bejibun, namun hanya berfikir kenapa orang gila itu berbuat kurang kerjaan
dengan mangga di depan rumahku. Kenapa bukan di depan rumah Nanang yang lebih
lebat buahnya. Kenapa mangga itu harus ditinggal, bukan dibawa saja?
Deg!
Memgumpulkan
mangga, tanpa dimakan. Hanya mengumpulkan.
Tidakkah dia
berpikir bahwa ada orang yang lebih membutuhkan mangga itu? Bahkan rela menunggu
berbulan-bulan hanya untuk menunggu mangga itu panen?
Yaaa, namanya
juga orang gila.
Orang gila?
Eh? Berapa hpku?
Satu, dua! Pentingkah? Berapa bajuku? Satu lemari lebih, kupakai semuakah? Berapa jilbabku? Kupakai semua jugakah?
Berapa tas di rumah? Banyaaakkkk. Adhuuuuhhhh, kepalaku tiba-tiba berdenyut.
Jantungku berdentum-dentum.
Jangan-jangan aku
tak lebih baik daripada orang gila itu. Bahkan lebih parah.
Allahu, ighfirly.
Mustika Ungu, 13
Desember 2012

Posting Komentar