ABOUT GABRIELLA

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Mauris sodales, libero vitae sollicitudin pretium, lectus augue tempor turpis, et pharetra velit magna a sapien. Etiam accumsan suscipit justo, id volutpat risus varius sit amet. Curabitur semper mi faucibus arcu hendrerit lobortis. Aenean ut ante vel elit scelerisque sodales vitae et velit. Maecenas suscipit nunc lorem.
Read More
  • Labels
  • Fashion

    JOIN US ON INSTAGRAM

    Recent in Sports

    Design

    Sandalku Nggak Mau Pulang: Catatan Mbolang ke Semarang

    Posting Komentar

    Kakiku kesemutan, mati rasa. Aku masih saja berpegangan erat pada jok motor, trauma kesrempet masih melekat kuat. Kesemutan makin parah. Jempol kaki kiriku tak lagi mampu menjepit sandal coklat hadiah dari kakak. Ya, sandalku lepas.
    “Sandalku lepas, Wend!”
    “Mau diambil, nggak?”
    Aku berfikir sejenak, “Hmm, nggak usah deh, ramai amat nih jalannya,”
    Aku terbayang-bayang, sandal coklat yang kudapat dari kakak saat aku ke Lampung. Duh, ya Allah... semoga kakak nggak marah. Aku menenangkan diri. Beristighfar seraya menahan rasa kesemutan pada kaki kiri.
    “Lhoh, Wend, mau ambil sandal, ya? Mau belok?” aku menyadari Wendy menepikan motornya ke ruas kanan.
    Ciaaat, tahu saja kamu jika aku nggak mau kehilangan sandal itu!
    Aku baru saja pulang dari Semarang. Dengan modal nekat. Aku buta tentang Semarang, hanya tahu jika harus naik bus Solo-Semarang. Dijemput mbak Amy di Banyumanik, tanpa tahu Banyumanik itu sebelah mana.
    Ketika ada pengumuman jika hari Kamis kuliah libur karena dosen ada urusan. Aku langsung berucap hamdalah, Allah mengabulkan doaku untuk bisa ke Semarang pagi. Bertemu dengan mbak Amy dan teman-teman-yang entah kenapa, aku selalu saja berharap bisa berkumpul lagi dengan mereka-.
    Setelah kasak-kusuk dengan Rangga dan mbak Amy hingga diobrolin di status segala, akhirnya aku mengambil keputusan untuk berangkat jam delapan dari rumah. Menumpang bus patas seperti biasanya, ibu nggak bakalan ngijinin anak bungsunya numpang bus ekonomi sendirian.
    Setelah dhuha kilat, aku segera memakai jilbab merah. Memasang bros kupu. Mengaitkan jam kupu ungu. Dengan mantab, aku melangkahkan kaki menuju jalan raya. Menguatkan kembali benang-benang ukhuwah.

    08.15
    Berjalan melewati jalanan yang tengah dicor membuat mataku perih, sandal belepotan debu, kaus kaki menjadi coklat kotor. Kadangkala berpapasan dengan truk-truk besar, truk pengangkut material asbestos milik pabrik Tripilar Betonmas. Sampai di jalan raya, menyetop bus berwarna hijau. Tetapi....
    Sebuah colt berwarna merah berhenti tepat dihadapanku. Hiaaat, kok malah colt yang berhenti. Aku bimbang. Ingin menggeleng, tetapi bus hijau itu terlanjur melaju ke arah utara. Akhirnya, aku naik colt berwarna merah itu. Berharap ketemu bus hijau di terminal Tingkir.
    Allah mengabulkan doaku, bus itu berhenti di terminal Tingkir. Aku mengambil kursi di bagian depan, berharap bertemu kursi kosong yang dekat dengan jendela. Namun nihil. Aku menghabiskan perjalanan dengan membaca novel. Sesekali membalas sms Rangga, mbak Amy, dan Dee. Wendy entah sedang sibuk apa.
    09.45
    Terminal Banyumanik-belakangan Dee memberitahu jika Banyumanik itu bukan terminal- lewat. Hawa panas langsung menyergapku begitu aku turun dari bus. Panas, silau. Aku yang jarang keluar rumah sejak desaku disulap menjadi kawasan industri, mulai merasakan gerah yang tidak nyaman. Ah, tetapi tujuanku kesini bukan untuk menikmati panasnya Semarang.
    Tunggu 15 menit
    Sms mbak Amy nangkring di inbox. Aku semakin penasaran bagaimana rupa mbak Amy, mengalihkan rasa penasaranku dengan membaca novel yang kubawa. Beberapa kali berpapasan dengan wanita berjilbab, mengira jika perempuan itu adalah mbak Amy. Tetapi sebelum aku menyapa mereka, mereka sudah ngacir duluan meninggalkanku bengong sendiri. Robbuna menyelamatkanku menyapa orang yang salah.
    Nokia hitamku bergetar lama, aku malas membuka. Yang kucari sekarang bukan pesan ataupun telepon yang acapkali membuatku panas, tetapi mbak Amy. Mbak Amy.
    Aku menoleh ketika merasakan kelebat motor berhenti. Seorang wanita dengan rok biru tua dan muka ditutup syal bermotif bunga-bunga. Aih, itu kah orangnya?
    Wanita itu mengangguk. Di tangannya tergenggam Hp berwarna ungu. –hiaaat, pecinta ungu juga, kah?-
    Aku tersenyum mendekatinya, berjabat tangan, “Gramedianya adoh nggak, sih?”
    “Nggak begitu jauh.”
    Ha? Ini orang Jawa bukan, ya? Logatnya nggak ada medhoknya, aku mau bicara pake bahasa Jawa jadi rikuh sendiri. Padahal jika di chat, sms, ngomongnya jawa banget...
    Aku segera nangkring di belakangnya. Sesekali mbak Amy mengajakku bicara. Aku bengong. Masa si mbak belum tahu? Ah, nanti ada waktunya untuk menjelaskan.
    -Aku sudah ketemu mbak Amy, lagi ngisi bensin.
    Aku mengirimkan sms kepada Rangga.
    -Satu tempat lagi, PEMDA.
    -Oke
    Semarang memang panas. Dulu aku bertandang kesini hanya sekejap. Paling-paling duduk, makan, minum, pulang. Itupun di depan kipas angin sembari menahan diri untuk tidak minum es di tengah berbagai macam es yang disuguhkan. Nggak kemana-mana, hanya di rumah budhe dan langsung pulang tanpa tahu ini dimana, namanya apa. Pulang-pulang langsung rebahan, menghirup nafas lega karena bisa menikmati udara Salatiga yang sejuk lagi.
    Kami menyusuri jalanan Semarang. Aku sangat bersyukur mbak Amy mengendarai motornya dengan santai. Trauma kesrempet kaki masih melekat kuat. Sampai-sampai tak berani mengubah posisi kaki. Kesemutan menyerang. Aku turun dari motor dengan kaki pincang sebelah.
    Dyah mengabarkan jika dosennya sakit, ingin menyusul ke Gramedia. Rangga sudah selesai urusan di Pemda. Wendy belum ada kabar, nggak tahu lagi apa.
    Nyatanya, tempat pertemuan kami jauh dari Gramedia. Kasak-kusuk pagi itu meleset jauh. Kami malah menunggu Rangga di depan taman.Bukan di Gramedia seperti persetujuan awal. Di dekat got yang katanya bau-Rupanya pilek ini membawa berkah, aku tak membaui bau got yang busuk.
    Siomay dan Es Degan
    Setelah berbincang ngalor-ngidul dengan Rangga dan mbak Amy. Mengingat-ingat bagaimana kami berkenalan pertama kali. Berbincang rute Semarang yang aku nggak paham sama sekali. Ngobrolin mbak Amy yang bentar lagi wisuda. Hingga tentang bisnis online yang tengah digeluti mbak Amy dan Rangga yang akan memborong bonekanya jika kelak dia punya TK. –Sukses usahanya, Mbak, biar bisa nagih janji Rangga :D-. Akhirnya Rangga mengajak keluar, nggak tahan bau got. Kemana pun, katanya.
    Kami menyusuri jalanan Tembalang-atau pleburan? Aku kok belakangan ketuker-tuker jika mengingat nama-. UNDIP, akhirnya aku melewatinya, meski hanya sekedar lewat. Hahaha. Menyusuri jalan yang mirip Bundaran Pancasila di Salatiga. Berhenti di depan BPR, siomay dan Es Degan.
    “Dyah udah di Gramed!” kata Rangga disela-sela telepon.
    Aku hampir tersedak. Ha? Aih, aku lupa dengan hp Nokia. Bergegas mengambil Hp, ada pesan dari Dee disana. Maafin, ukh...
    Kami berbincang. Aku seperti biasanya memilih menjadi pendengar-atau pembaca? :D- sampai-sampai mbak Amy menepuk bahuku, Widi kok diam?
    Berkenalan, berbincang. Ada kebahagiaan yang menelusup ketika melihat Dee dan Rangga berbincang akrab dengan mbak Amy meski kami baru saja bertemu di dunia nyata. Bahkan Dee baru saja berkenalan, di dunia maya dia hanya sekedar tahu nama.
    Alhamdulillah, kalo ke Semarang banyak yang nunggu untuk nemenin. Dan... (Keluar tanduk merah :D)
    Tiba-tiba ada sesosok orang nongol, sontak kami meghentikan obrolan. Menengok. Ia tersenyum. Ternyata, Wendy. Hiaa, datang-datang nongol begitu saja di depan kami. Jadilah kami berlima; aku, mbak Amy, Dyah, Rangga, dan Wendy.
    Perpustakaan Masjid Agung Jawa Tengah; Mewah di Luar Miskin di Dalam
    Setelah puas mengisi perut di tenda siomay, kami menuju masjid Universitas Muhammadiyah untuk menunaikan dzuhur. Aku sempat-sempatnya nggrundel dengan Dyah dan mbak Amy tentang susahnya terapi, keheranan teman-teman yang ditujukan kepadaku, hingga kegundahanku tentang TOEFL ketika aku selesai memakai kaus kaki. Mbak Amy terlihat bengong, mungkin baru nyadar jika aku yang heboh tiap komenan di fb seperti ini :D
    “Mau kemana? Masjid Agung, Pantai Marina, Gramedia, Tugu Muda,...?” Dyah dan Mbak Amy menawariku tempat jalan-jalan.
    Aku hanya diam. Bengong. Semuanya belum pernah kukunjungi. Semuanya ingin kukunjungi. –Kemaruk-. Baru bisa menjawab ketika mampir di kos Wendy.
    Akhirnya, kami memutuskan untuk ke Masjid Agung saja. Menyusuri jalan Semarang yang ruwet, tetapi lebih ruwet saat di Tambun dulu :D
    Perpus atau gudang buku ya?
    Aku melongo ketika masuk ke perpus. Dibandingkan dengan penataan perpus mini milik mas Muhammad Maksum, lebih tertata milik mas Mak daripada perpus ini. Aku sampai nggak percaya, di gedung semegah ini perpusnya kayak gini?
    “Mbak, ini perpus apa-apa sih? Nggak nggenah gini, “ cerewetku kumat, mbak Amy hanya tersenyum.
    Aku mengitari perpus, melihat-lihat koleksi. Lemari yang banyak kosong itu rasanya ingin kuangkut ke rumah, aku kekurangan tempat untuk menyimpan buku-bukuku. Fiuuuuhhhh.
    Jenuh di perpus, aku mengajak mbak Amy untuk keluar, shalat dzuhr. Jalan-jalan mengitari masjid. Bercerita berdua di beranda sampai tenggorokan kering. Lalu menuju menara, lagi-lagi tiketnya dibayarin mbak Amy.
    Sampai di atas, aku bertemu Wendy dan Dyah yang sudah naik duluan. Menikmati Semarang dari atas menara, aku menemukan sawah-sawah terbentang. Ternyata di Semarang masih ada sawah. Wkwkwk
    Adzn ashar menggema, mengingatkanku untuk pulang. Kami turun dari menara, narsisan dulu di depan (Weeeeend, mana potonyaaaaa?”. Shalat ashar dan bergegas pulang ke kos Wendy. Aku pulang diantar Wendy sampai rumah.
    Hmm, hari yang keren. Menyadarkanku jika aku tak pantas untuk murung, Allah mengirimkan orang-orang keren yang selalu saja datang menemaniku.
    Thank a lot for this sweet moments. Wanna spend my time with u again.
    Mustika Ungu, 13 Desember 2012.
    #hehe, parah, baru nyempurnain catatan ini sekarang, so sorry, dear :Dv

    Widi Utami
    Widi Utami
    Pengagum pelangi, penikmat coklat, penggila ungu yang mencoba untu terus berbagi sebagi wujud untuk mensyukuri nikmat Robbuna yang luaar biasa.

    Related Posts

    Posting Komentar