Kakiku kesemutan,
mati rasa. Aku masih saja berpegangan erat pada jok motor, trauma kesrempet
masih melekat kuat. Kesemutan makin parah. Jempol kaki kiriku tak lagi mampu
menjepit sandal coklat hadiah dari kakak. Ya, sandalku lepas.
“Sandalku lepas,
Wend!”
“Mau diambil,
nggak?”
Aku berfikir
sejenak, “Hmm, nggak usah deh, ramai amat nih jalannya,”
Aku
terbayang-bayang, sandal coklat yang kudapat dari kakak saat aku ke Lampung.
Duh, ya Allah... semoga kakak nggak marah. Aku menenangkan diri. Beristighfar
seraya menahan rasa kesemutan pada kaki kiri.
“Lhoh, Wend, mau
ambil sandal, ya? Mau belok?” aku menyadari Wendy menepikan motornya ke ruas
kanan.
Ciaaat, tahu saja kamu jika aku nggak mau
kehilangan sandal itu!
Aku baru saja pulang dari Semarang. Dengan modal nekat.
Aku buta tentang Semarang, hanya tahu jika harus naik bus Solo-Semarang.
Dijemput mbak Amy di Banyumanik, tanpa tahu Banyumanik itu sebelah mana.
Ketika ada pengumuman jika hari Kamis kuliah libur
karena dosen ada urusan. Aku langsung berucap hamdalah, Allah mengabulkan doaku
untuk bisa ke Semarang pagi. Bertemu dengan mbak Amy dan teman-teman-yang entah
kenapa, aku selalu saja berharap bisa berkumpul lagi dengan mereka-.
Setelah kasak-kusuk dengan Rangga dan mbak Amy hingga
diobrolin di status segala, akhirnya aku mengambil keputusan untuk berangkat
jam delapan dari rumah. Menumpang bus patas seperti biasanya, ibu nggak bakalan
ngijinin anak bungsunya numpang bus ekonomi sendirian.
Setelah dhuha kilat, aku segera memakai jilbab merah.
Memasang bros kupu. Mengaitkan jam kupu ungu. Dengan mantab, aku melangkahkan
kaki menuju jalan raya. Menguatkan kembali benang-benang ukhuwah.
08.15
Berjalan melewati jalanan yang tengah dicor membuat
mataku perih, sandal belepotan debu, kaus kaki menjadi coklat kotor. Kadangkala
berpapasan dengan truk-truk besar, truk pengangkut material asbestos milik
pabrik Tripilar Betonmas. Sampai di jalan raya, menyetop bus berwarna hijau.
Tetapi....
Sebuah colt berwarna merah berhenti tepat dihadapanku.
Hiaaat, kok malah colt yang berhenti. Aku bimbang. Ingin menggeleng, tetapi bus
hijau itu terlanjur melaju ke arah utara. Akhirnya, aku naik colt berwarna
merah itu. Berharap ketemu bus hijau di terminal Tingkir.
Allah mengabulkan doaku, bus itu berhenti di terminal
Tingkir. Aku mengambil kursi di bagian depan, berharap bertemu kursi kosong
yang dekat dengan jendela. Namun nihil. Aku menghabiskan perjalanan dengan
membaca novel. Sesekali membalas sms Rangga, mbak Amy, dan Dee. Wendy entah
sedang sibuk apa.
09.45
Terminal Banyumanik-belakangan Dee memberitahu jika
Banyumanik itu bukan terminal- lewat. Hawa panas langsung menyergapku begitu
aku turun dari bus. Panas, silau. Aku yang jarang keluar rumah sejak desaku
disulap menjadi kawasan industri, mulai merasakan gerah yang tidak nyaman. Ah,
tetapi tujuanku kesini bukan untuk menikmati panasnya Semarang.
Tunggu 15 menit
Sms mbak Amy nangkring di inbox. Aku semakin penasaran
bagaimana rupa mbak Amy, mengalihkan rasa penasaranku dengan membaca novel yang
kubawa. Beberapa kali berpapasan dengan wanita berjilbab, mengira jika
perempuan itu adalah mbak Amy. Tetapi sebelum aku menyapa mereka, mereka sudah
ngacir duluan meninggalkanku bengong sendiri. Robbuna menyelamatkanku menyapa
orang yang salah.
Nokia hitamku bergetar lama, aku malas membuka. Yang
kucari sekarang bukan pesan ataupun telepon yang acapkali membuatku panas,
tetapi mbak Amy. Mbak Amy.
Aku menoleh ketika merasakan kelebat motor berhenti.
Seorang wanita dengan rok biru tua dan muka ditutup syal bermotif bunga-bunga.
Aih, itu kah orangnya?
Wanita itu mengangguk. Di tangannya tergenggam Hp
berwarna ungu. –hiaaat, pecinta ungu juga, kah?-
Aku tersenyum mendekatinya, berjabat tangan,
“Gramedianya adoh nggak, sih?”
“Nggak begitu jauh.”
Ha? Ini orang
Jawa bukan, ya? Logatnya nggak ada medhoknya, aku mau bicara pake bahasa Jawa
jadi rikuh sendiri. Padahal jika di chat, sms, ngomongnya jawa banget...
Aku segera nangkring di belakangnya. Sesekali mbak Amy
mengajakku bicara. Aku bengong. Masa si
mbak belum tahu? Ah, nanti ada waktunya untuk menjelaskan.
-Aku sudah ketemu mbak Amy, lagi ngisi bensin.
Aku mengirimkan sms kepada Rangga.
-Satu tempat lagi, PEMDA.
-Oke
Semarang memang panas. Dulu aku bertandang kesini hanya
sekejap. Paling-paling duduk, makan, minum, pulang. Itupun di depan kipas angin
sembari menahan diri untuk tidak minum es di tengah berbagai macam es yang
disuguhkan. Nggak kemana-mana, hanya di rumah budhe dan langsung pulang tanpa
tahu ini dimana, namanya apa. Pulang-pulang langsung rebahan, menghirup nafas
lega karena bisa menikmati udara Salatiga yang sejuk lagi.
Kami menyusuri jalanan Semarang. Aku sangat bersyukur
mbak Amy mengendarai motornya dengan santai. Trauma kesrempet kaki masih
melekat kuat. Sampai-sampai tak berani mengubah posisi kaki. Kesemutan menyerang.
Aku turun dari motor dengan kaki pincang sebelah.
Dyah mengabarkan jika dosennya sakit, ingin menyusul ke
Gramedia. Rangga sudah selesai urusan di Pemda. Wendy belum ada kabar, nggak
tahu lagi apa.
Nyatanya, tempat pertemuan kami jauh dari Gramedia.
Kasak-kusuk pagi itu meleset jauh. Kami malah menunggu Rangga di depan
taman.Bukan di Gramedia seperti persetujuan awal. Di dekat got yang katanya
bau-Rupanya pilek ini membawa berkah, aku tak membaui bau got yang busuk.
Siomay dan Es Degan
Setelah berbincang ngalor-ngidul dengan Rangga dan mbak
Amy. Mengingat-ingat bagaimana kami berkenalan pertama kali. Berbincang rute
Semarang yang aku nggak paham sama sekali. Ngobrolin mbak Amy yang bentar lagi
wisuda. Hingga tentang bisnis online yang tengah digeluti mbak Amy dan Rangga
yang akan memborong bonekanya jika kelak dia punya TK. –Sukses usahanya, Mbak,
biar bisa nagih janji Rangga :D-. Akhirnya Rangga mengajak keluar, nggak tahan
bau got. Kemana pun, katanya.
Kami menyusuri jalanan Tembalang-atau pleburan? Aku kok
belakangan ketuker-tuker jika mengingat nama-. UNDIP, akhirnya aku melewatinya,
meski hanya sekedar lewat. Hahaha. Menyusuri jalan yang mirip Bundaran
Pancasila di Salatiga. Berhenti di depan BPR, siomay dan Es Degan.
“Dyah udah di Gramed!” kata Rangga disela-sela telepon.
Aku hampir tersedak. Ha? Aih, aku lupa dengan hp Nokia.
Bergegas mengambil Hp, ada pesan dari Dee disana. Maafin, ukh...
Kami berbincang. Aku seperti biasanya memilih menjadi
pendengar-atau pembaca? :D- sampai-sampai mbak Amy menepuk bahuku, Widi kok
diam?
Berkenalan, berbincang. Ada kebahagiaan yang menelusup
ketika melihat Dee dan Rangga berbincang akrab dengan mbak Amy meski kami baru
saja bertemu di dunia nyata. Bahkan Dee baru saja berkenalan, di dunia maya dia
hanya sekedar tahu nama.
Alhamdulillah,
kalo ke Semarang banyak yang nunggu untuk nemenin. Dan... (Keluar tanduk merah
:D)
Tiba-tiba ada sesosok orang nongol, sontak kami
meghentikan obrolan. Menengok. Ia tersenyum. Ternyata, Wendy. Hiaa,
datang-datang nongol begitu saja di depan kami. Jadilah kami berlima; aku, mbak
Amy, Dyah, Rangga, dan Wendy.
Perpustakaan Masjid Agung Jawa Tengah; Mewah di Luar
Miskin di Dalam
Setelah puas mengisi perut di tenda siomay, kami menuju
masjid Universitas Muhammadiyah untuk menunaikan dzuhur. Aku sempat-sempatnya
nggrundel dengan Dyah dan mbak Amy tentang susahnya terapi, keheranan
teman-teman yang ditujukan kepadaku, hingga kegundahanku tentang TOEFL ketika
aku selesai memakai kaus kaki. Mbak Amy terlihat bengong, mungkin baru nyadar jika
aku yang heboh tiap komenan di fb seperti ini :D
“Mau kemana? Masjid Agung, Pantai Marina, Gramedia,
Tugu Muda,...?” Dyah dan Mbak Amy menawariku tempat jalan-jalan.
Aku hanya diam. Bengong. Semuanya belum pernah
kukunjungi. Semuanya ingin kukunjungi. –Kemaruk-. Baru bisa menjawab ketika
mampir di kos Wendy.
Akhirnya, kami memutuskan untuk ke Masjid Agung saja.
Menyusuri jalan Semarang yang ruwet, tetapi lebih ruwet saat di Tambun dulu :D
Perpus atau gudang buku ya?
Aku melongo ketika masuk ke perpus. Dibandingkan dengan
penataan perpus mini milik mas Muhammad Maksum, lebih tertata milik mas Mak
daripada perpus ini. Aku sampai nggak percaya, di gedung semegah ini perpusnya
kayak gini?
“Mbak, ini perpus apa-apa sih? Nggak nggenah gini, “
cerewetku kumat, mbak Amy hanya tersenyum.
Aku mengitari perpus, melihat-lihat koleksi. Lemari
yang banyak kosong itu rasanya ingin kuangkut ke rumah, aku kekurangan tempat
untuk menyimpan buku-bukuku. Fiuuuuhhhh.
Jenuh di perpus, aku mengajak mbak Amy untuk keluar,
shalat dzuhr. Jalan-jalan mengitari masjid. Bercerita berdua di beranda sampai
tenggorokan kering. Lalu menuju menara, lagi-lagi tiketnya dibayarin mbak Amy.
Sampai di atas, aku bertemu Wendy dan Dyah yang sudah
naik duluan. Menikmati Semarang dari atas menara, aku menemukan sawah-sawah
terbentang. Ternyata di Semarang masih ada sawah. Wkwkwk
Adzn ashar menggema, mengingatkanku untuk pulang. Kami
turun dari menara, narsisan dulu di depan (Weeeeend, mana potonyaaaaa?”. Shalat
ashar dan bergegas pulang ke kos Wendy. Aku pulang diantar Wendy sampai rumah.
Hmm, hari yang keren. Menyadarkanku jika aku tak pantas
untuk murung, Allah mengirimkan orang-orang keren yang selalu saja datang
menemaniku.
Thank a lot for this sweet moments. Wanna spend my time
with u again.
Mustika Ungu, 13 Desember 2012.
#hehe, parah, baru nyempurnain catatan ini sekarang, so
sorry, dear :Dv


Posting Komentar