Salatiga super
dingin bukan sore ini?
Aku sudah
meringkuk di balik selimut ketika maghrib bertandang. Apalagi PLN lagi ngambek,
listrik rumahku mati gara-gara keseringan njeglek. Enak buat tidur. Hahaha,
tetapi adik-adik keburu datang sambil membawa lampu emergency sebelum aku
dilanda kemalasan dan memutuskan untuk libur!
Mereka
benar-benar... Mau mbaknya lagi pms, hobi marah-marah. Mau mbaknya lagi
bener-bener sakit, mereka bilang Cuma masuk angin doang, ntar keluar sendiri
anginnya. Mau Taman Tauhid gelap gulita. Mau hujan mengguyur Salatiga. They
always come to our beloved room, untuk berbagi cinta di rumah ini dengan
caranya sendiri.
Mataku agak
sipit menahan silau dari lampu emergency. Dek Gilang bilang jika nggak kuat
baca Iqra’ dengan lampu emergency itu, diiyakan oleh adik-adik yang lain. Maka,
sore ini kita berebut bintang.
Kami mengulang
kembali hafalan kemarin lusa, tentang cinta.
Laa yu’minu
akhadukum khattaa yuhibbu li akhiihi maa yukhibbu linafsihii
Tidak sempurna
iman seorang diantaramu sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai diri
sendiri.
Suara mereka
mulai menghangatkan ruangan. Aku meminta mereka mengulang sebanyak empat kali.
“Kamu punya
uang dua ribu, kamu pengen beli es krim, harganya dua ribu. Ada temen kamu yang
nggak punya uang. Trus gimana?” aku mengajukan pertanyaan kepada adik-adik
setelah ulangan keempat.
Dani dan Supri,
memberikan uang seribu.
Gilang,
memberikan permen lima.
Tyo dan Nico,
memberikan permen sepuluh.
Exza memilih
membagi es krimnya menjadi dua.
Adik-adik kecil
hanya diam ketika kuminta mereka berpendapat, Dik Tegar masih asyik dengan
gambar robotnya yang entah sudah menghabiskan berapa puluh buku tulis.
“Memberikan
senyum, mbak.” Budi menjawab dengan tampangnya yang selalu cool.
Aku menahan
tawa, “Hah? Terus kamu makan es krim di depannya, gitu?”
Dia
mengangguk-angguk sambil tersenyum. Seolah-olah dia berkata kepadaku, senyum
kan juga sedekah, tabassumuka fi wajhi akhiika shodaqah. Adik-adik tertawa
riuh.
“Kalo aku,
menghibur, Mbak.” Sidiq menambahkan.
“Menghibur?”
“Iya,
njoget-njoget biar dia ketawa.”
“Njoget sambil
makan es krim?”
Sidiq
mengangguk riang, Exza mengajak tos! “Dia kan jadi tertawa, mbak. Bikin orang
seneng, sedekah!”
Aku pun beralih
bahasan, membalik pernyataan tadi. “Ada temenmu yang lagi makan es krim, kamu
nggak punya uang. Temenmu tadi Cuma ngasih senyuman waktu kamu lihatin dia,
gimana perasaan kamu?”
“Gatel
tenggorokannya,”
“Rasanya pengen
ngiris-ngiris.” Ini kata Nico, kayaknya perasa si Anak yang always resik ini.
“Lari pulang,
minta ibu beliin es krim juga.” Gayanya Dik Tegar.
“Sediiiiiihhhh,”
Budi menambahkan. Memasang tampang mellow.
“Seneng, mbak!”
Tiba-tiba Exza menghentak.
“Hah? Kamu
seneng, kok bisa?”
“Iyalah, lihat
teman senyum kan seneng. Apalagi sambil nungguin es krim yang netes-netes”
ujarnya sambil memperagakan mulut yang tengah menunggu tetesan es krim.
“Oooh, maksudmu
ada kesempatan buat ngicipin tetesannya gitu?”
“Hahaha,” kami
tertawa, Dik Tegar yang sedang asik dengan gambarnya pun ikut tertawa
terpingkal-pingkal.
Masih
seperempat jam lagi sebelum adzan isya. Waktunya berebut bintang, mengetes
hafalan adik-adik satu persatu.
Hanya Nico dan
Yoga yang berhak dapat bintang untuk hafalan kali ini, lumayan susah,
kebalik-balik. Aku mengajak mereka menarik kesimpulan sebelum doa penutup, “Mencintai
saudara, seperti mencintai diri sendiri. Jika suka dibagi, bagi-bagi sama
temen-temen. Jika nggak suka ngumpetin sandal, jangan ngumpetin sandal
temen-temen. Jika nggak suka dituduh-tuduh...”
“Jangan suka
nuduh-nuduh” Exza menyambung.
“Kayak aku.”
Budi menunjuk diri-sendiri.
Big Thanks for You, always Love
You.
Mustika Ungu, di (calon) kamar
pingu
04 Januari 2012

Posting Komentar