ABOUT GABRIELLA

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Mauris sodales, libero vitae sollicitudin pretium, lectus augue tempor turpis, et pharetra velit magna a sapien. Etiam accumsan suscipit justo, id volutpat risus varius sit amet. Curabitur semper mi faucibus arcu hendrerit lobortis. Aenean ut ante vel elit scelerisque sodales vitae et velit. Maecenas suscipit nunc lorem.
Read More
  • Labels
  • Fashion

    JOIN US ON INSTAGRAM

    Recent in Sports

    Design

    KisahKita#2 Biar Gelap, Ada Cinta

    Posting Komentar


    Salatiga super dingin bukan sore ini?
    Aku sudah meringkuk di balik selimut ketika maghrib bertandang. Apalagi PLN lagi ngambek, listrik rumahku mati gara-gara keseringan njeglek. Enak buat tidur. Hahaha, tetapi adik-adik keburu datang sambil membawa lampu emergency sebelum aku dilanda kemalasan dan memutuskan untuk libur!
    Mereka benar-benar... Mau mbaknya lagi pms, hobi marah-marah. Mau mbaknya lagi bener-bener sakit, mereka bilang Cuma masuk angin doang, ntar keluar sendiri anginnya. Mau Taman Tauhid gelap gulita. Mau hujan mengguyur Salatiga. They always come to our beloved room, untuk berbagi cinta di rumah ini dengan caranya sendiri.
    Mataku agak sipit menahan silau dari lampu emergency. Dek Gilang bilang jika nggak kuat baca Iqra’ dengan lampu emergency itu, diiyakan oleh adik-adik yang lain. Maka, sore ini kita berebut bintang.
    Kami mengulang kembali hafalan kemarin lusa, tentang cinta.
    Laa yu’minu akhadukum khattaa yuhibbu li akhiihi maa yukhibbu linafsihii
    Tidak sempurna iman seorang diantaramu sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai diri sendiri.
    Suara mereka mulai menghangatkan ruangan. Aku meminta mereka mengulang sebanyak empat kali.
    “Kamu punya uang dua ribu, kamu pengen beli es krim, harganya dua ribu. Ada temen kamu yang nggak punya uang. Trus gimana?” aku mengajukan pertanyaan kepada adik-adik setelah ulangan keempat.
    Dani dan Supri, memberikan uang seribu.
    Gilang, memberikan permen lima.
    Tyo dan Nico, memberikan permen sepuluh.
    Exza memilih membagi es krimnya menjadi dua.
    Adik-adik kecil hanya diam ketika kuminta mereka berpendapat, Dik Tegar masih asyik dengan gambar robotnya yang entah sudah menghabiskan berapa puluh buku tulis.
    “Memberikan senyum, mbak.” Budi menjawab dengan tampangnya yang selalu cool.
    Aku menahan tawa, “Hah? Terus kamu makan es krim di depannya, gitu?”
    Dia mengangguk-angguk sambil tersenyum. Seolah-olah dia berkata kepadaku, senyum kan juga sedekah, tabassumuka fi wajhi akhiika shodaqah. Adik-adik tertawa riuh.
    “Kalo aku, menghibur, Mbak.” Sidiq menambahkan.
    “Menghibur?”
    “Iya, njoget-njoget biar dia ketawa.”
    “Njoget sambil makan es krim?”
    Sidiq mengangguk riang, Exza mengajak tos! “Dia kan jadi tertawa, mbak. Bikin orang seneng, sedekah!”
    Aku pun beralih bahasan, membalik pernyataan tadi. “Ada temenmu yang lagi makan es krim, kamu nggak punya uang. Temenmu tadi Cuma ngasih senyuman waktu kamu lihatin dia, gimana perasaan kamu?”
    “Gatel tenggorokannya,”
    “Rasanya pengen ngiris-ngiris.” Ini kata Nico, kayaknya perasa si Anak yang always resik ini.
    “Lari pulang, minta ibu beliin es krim juga.” Gayanya Dik Tegar.
    “Sediiiiiihhhh,” Budi menambahkan. Memasang tampang mellow.
    “Seneng, mbak!” Tiba-tiba Exza menghentak.
    “Hah? Kamu seneng, kok bisa?”
    “Iyalah, lihat teman senyum kan seneng. Apalagi sambil nungguin es krim yang netes-netes” ujarnya sambil memperagakan mulut yang tengah menunggu tetesan es krim.
    “Oooh, maksudmu ada kesempatan buat ngicipin tetesannya gitu?”
    “Hahaha,” kami tertawa, Dik Tegar yang sedang asik dengan gambarnya pun ikut tertawa terpingkal-pingkal.
    Masih seperempat jam lagi sebelum adzan isya. Waktunya berebut bintang, mengetes hafalan adik-adik satu persatu.
    Hanya Nico dan Yoga yang berhak dapat bintang untuk hafalan kali ini, lumayan susah, kebalik-balik. Aku mengajak mereka menarik kesimpulan sebelum doa penutup, “Mencintai saudara, seperti mencintai diri sendiri. Jika suka dibagi, bagi-bagi sama temen-temen. Jika nggak suka ngumpetin sandal, jangan ngumpetin sandal temen-temen. Jika nggak suka dituduh-tuduh...”
    “Jangan suka nuduh-nuduh” Exza menyambung.
    “Kayak aku.” Budi menunjuk diri-sendiri.


    Big Thanks for You, always Love You.
    Mustika Ungu, di (calon) kamar pingu
    04 Januari 2012

    Widi Utami
    Widi Utami
    Pengagum pelangi, penikmat coklat, penggila ungu yang mencoba untu terus berbagi sebagi wujud untuk mensyukuri nikmat Robbuna yang luaar biasa.

    Related Posts

    There is no other posts in this category.

    Posting Komentar