ABOUT GABRIELLA

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Mauris sodales, libero vitae sollicitudin pretium, lectus augue tempor turpis, et pharetra velit magna a sapien. Etiam accumsan suscipit justo, id volutpat risus varius sit amet. Curabitur semper mi faucibus arcu hendrerit lobortis. Aenean ut ante vel elit scelerisque sodales vitae et velit. Maecenas suscipit nunc lorem.
Read More
  • Labels
  • Fashion

    JOIN US ON INSTAGRAM

    Recent in Sports

    Design

    SLB Tuli Warisan Belanda: Mengutamakan Oral, Menekan Potensi Vital

    Posting Komentar

     

    Ijinkan aku ngoceh dengan seenak jidatku sendiri. Kemarahanku memuncak. Ah, apalah arti kemarahan seorang pemimpi bernama WiDut? Ini bermula dari keprihatinanku tentang sahabat-sahabat deaf. Tentang kemampuan baca-tulis meraka yang rata-rata rendah. Aku menemukannya semenjak bergabung dengan sahabat WALITURA. Keterpukauan volunter tentang kemampuanku menulis dan berbahasa verbal memacuku untuk menyelidiki lebih dalam bagaimana gaya menulis sahabat deaf.

     

    Nyatanya memang benar, jika dinilai dari ketatabahasaan, gaya tulisannya sulit untuk dipahami. Penggunaan kata-katanya seringkali kurang tepat. Bahkan untuk memahami sebuah bacaan pun ada yang  kesulitan. Dan, kami semua mengakui itu, termasuk sahabat deaf sendiri. Bang Yit yang expert pun mengakui bahwa kemampuan baca-tulisnya lemah. Mereka seringkali membodoh-bodohkan diri di depanku. Sering, sesering aku bertemu mereka, pasti ada saja salah satu diantara mereka yang mengepalkan tangan dan meletakkannya di jidat, “aku bodoh, Widi...”

    Aku menyelidiki. Aku tak percaya jika ini adalah faktor iQ atau apapun itu namanya. Aku tak percaya, sama sekali tak terima ketika dosenku menyampaikan bahwa salah satu ciri ABK dengan gangguan tunarungu adalah kecerdasan yang turun! Aku menyangkal, aku tunjukkan pada dosenku bahwa aku bukan orang bodoh. Tetapi, Robbuna, baik orang medis maupun praktisi pendidikan hanya berkata bahwa untuk kasusku adalah pengecualian.

     

    Aku berbincang dengan sahabat deaf, mengorek lebih dalam bagaimana proses belajar mereka di kelas.

     

    “Kami belajar sendiri, “kata kak Adi.

    Aku mengkerutkan kening, “isyarat? di SLB?”

    “Oral.”

     

    Oral? aku tenggelam dalam keterkejutanku sendiri. Proses belajar mereka di kelas mengutamakan oral.

    Why? Kenapa mereka seolah-olah memaksa sahabat deaf belajar dengan bahasa oral di situasi apapun?

    Aku, yang setiap hari berbahasa oral, untuk memahami pelajaran  harus nongkrong di perpus. Membaca lebih banyak dari teman-teman yang lain. Itu pun nilaiku rata-rata, bahkan saat SMA aku berada di peringkat dua dari bawah. Seolah-olah belajar bahasa oral lah yang paling penting, melupakan pelajaran yang lain. Melupakan bahasa, melupakan budaya, melupakan alternatif komunikasi… Diperkuat dengan pengallaman bang Yit sebagai guru, aku menuduh disnilah letak penyebabnya.

     

    Hari Minggu lalu, selepas aku belajar bahasa isyarat, kak Henry menyodorkan kepadaku sebuah video dari aktivis tuli. Di video itu diceritakan langsung tentang pengalaman belajar di SLB yang mengutamakan bahasa oral. Ternyata, sistem oral adalah warisan Belanda.

     

    kak Adhi Kusumo Bharoto, menuturkan sejarah pendidikan Tuli. Bermula pada tahun 1930, Belanda mendirikan sekolah tuli pertama di Bandung yang bernama CICENDO. Sistem belajar di CICENDO menggunakan sistem oral.  Kemudian didirikan SLB di beberapa daerah. Pada saat Indonesia merdeka pada tahun 1945, SLB dialih tangan oleh pemerintah menjadi SLB Negeri. Sayangnya, sistenm yang digunakan tidak berubah, sampai sekarang kebanyakan SLB masih mengutamakan sistem oral.

     

    Sampai disini aku geram. Beberapa hari yang lalu, di jejaring sosial facebook kami tengah memperbincangkan perubahan sistem pendidikan pesantren di Indonesia ke sisitem pendidikan kapitalis yang mencetak mental kuli pada masa penjajahan. Obrolan yang sedikit panas, pro kontra antara kalangan akademisi yang sudah terlanjur nyaman dengan ereka yang menginginkan perubahan. Lalu, ternyata pengaruh Belanda dalam pendidikan tuli pun sampai sekarang tidak mengalami perubahan. Gemas? Dobel-dobel.

     

    Jika sahabat belum tahu apa itu sistem oral, aku akan menceritakannya sedikit.

    Aku selama ini tenggelam dengan komunikasi oral, dimana aku membaca mulut lawan bicara untuk mengerti apa yang mereka sampaikan. Singkatnya, guru di kelas yang mengutamakan sistem oral memaksa sahabat deaf untuk mengerti pelajaran dengan cara membaca mulut guru dan sedikit menggunakan bahasa isyarat. Hal ini sedikit dimaklumi karena guru mengharapkan sahabat deaf untuk bisa berkomunikasi dengan masyarakat normal melalui bahasa oral.

     

    Mbulet, ya?

    Bahkan seorang deaf yang sudah berhasil pun ada yang tidak mau berkomunikasi dengan bahasa isyarat. It means, dia hanya mau berkomunikasi dengan bahasa oral meskipun tengah berada di komunitas deaf. Sahabat deaf cenderung nayaan dengan bahasa isyarat, mereka sedikit-banyak kesulitan untuk belajar oral. Dan, hei, saat belajar mereka tidak mampu memahami penjelasan guru. Bagaimana mau paham jika komunikasi yang digunakan tidak tepat?

     

    Sudah banyak teori-teori pembelajaran yang menyatakan bahwa belajar harus disesuaikan dengan kondisi anak didik. Saat aku mempelajari kuliah Anak Berkebutuhan Khusus pun sempat membahas tentang bagaimana mengantisipasi belajar anak yang mengalami gangguan pendengaran, salah satunya memperbanyak media visual dan meningkatkan  kemampuan baca-tulis. Tetapi aku belum tahu persis bagaimana proses pembelajaran di SLB tuli. Well, dengan model belajar yang seperti itu, anak menjadi tertekan karena tidak mampu memahami guru dan secara otomatis tidak mampu mencapai tujuan pembelajaran.

     

    Inilah akar penyebab rendahnya  kemampuan baca-tulis yang sangat vital bagi sahabat deaf. Ada keinginan yang sangat besar untuk membantu sahabat deaf mengatasi hal ini. Beberapa sahabat menganjurkan aku berbagi dengan sahabat deaf berdasarkan pengalamanku belajar selama ini. Jika sahabat deaf mampu menulis dengan baik, aku yakin, mereka mampu berbagi dan menyampaikan pemikiran lebih baik lagi tanpa lawan bicara harus mempelajari bahasa isyarat, tanpa penerjemah. Cukup menulis, dan ribuan orang akan membaca tanpa harus berjumpa.

     

    Mimpi yang sangat tinggi, ya?

    Tentu saja, kamu harus belajar isyarat dulu, Dut!

     

    Kampus, Sela-sela kuliah 16 April 2014

    10.45

    Widi Utami
    Widi Utami
    Pengagum pelangi, penikmat coklat, penggila ungu yang mencoba untu terus berbagi sebagi wujud untuk mensyukuri nikmat Robbuna yang luaar biasa.

    Related Posts

    Posting Komentar