Bagi kita yang normal, mampu berbaur dengan teman-teman deaf adalah sebuah hal yang luar biasa. Jangankan kalian yang normal, aku yang deaf setengah pun berulangkali merasakan kebahagiaan tersendiri ketika berbaur dengan sahabat deaf.
Untuk berkomunikasi dengan mereka tentu saja harus menyatukan bahasa. Kan nggak lucu jika orang Jawa berbahasa Jawa ngobrol dengan orang Sunda berbahasa Sunda?
Untuk itulah WALITURA mengadakan kursus bahasa isyarat gratis setiap dua minggu sekali di Selasar Kartini.
Tanganku menunjuk diriku sendiri, kemudian aku mengepalkan tangan dan kuletakkan di jidat sambil tertawa menang. Aku bodoh, kan!
Beberapa orang melotot, apalagi tentorku sendiri. Mencibirku sambil melirik sebal. Ia menggoyangkan tangan sambil menggelengkan kepala.
Tidak-tidak!
Aku mengulang kembali, kali ini dengan nama isyarat: abjad isyarat Internasional W di kedua tangan yang diperagakan seperti tengah membuka buku, berarti WiDut si tukang baca. 
Widi bodoh!
kak Adi, tentorku, semakin melotot. Menggeleng lebih cepat. Tangannya mengisyaratkan kepadaku untuk fokus melihatnya.
Kamu bukan bodoh, tetapi malas belajar bahasa isyarat!
Disambut anggukan kepala kak Sandi yang tengah mengajari bahasa Isyarat kepada mbak April. Mbak Puhan mengeluh, “Huuu, iya Widi tuh!” —Beuh, kenapa aku tidak bisa memanggilmu mbak Ayu seperti teman yang lain?--
Aku tertawa, mencari alibi: Widi sibuk kuliah, wajar dong lupa.
Aku tak hanya sekali-dua kali lupa. Beberapa sahabat pura-pura mendengus sebal. Entahlah, aku mengaku kalah. Waktuku terkuras untuk aktivitas di luar komuintas, bertemu dengan sahabat deaf terhitung sangat jarang. Waktuku lebih banyak untuk bertemu dengan sahabat-sahabat normal, berbincang layaknya mereka. Bahasa isyaratku sedikit terbengkalai lantaran tak pernah diasah di luar pertemuan WALITURA. Tetapi, ada satu hal yang membuatku sedikit menghargai diri, kini aku mampu berbincang dengan mereka. Mengerti apa yang mereka bicarakan, meskipun belum mampu menjawab atau berkata-kata isyarat dengan lancar.
Well, inilah ocehan manusia setengah deaf—byuh, untung bukan setengah dewa – yang belum mampu menguasai bahasa sahabat-sahabatnya. Seseorang yang menyayangi mereka, namun acapkali lupa apakah nama isyaratnya. Seseorang yang ingin berbuat sesuatu, tetapi justru merekalah yang seringkali menguatkan aku untuk terus melangkah.
Aku belajar banyak saat SOBIS. Belajar untuk mengalahkan ego pribadi saat berbincang. Bagaimana mengelola rasa untuk mengerti isyarat mereka dan berusaha agar mereka mengerti pembicaraan kita. Berbagi tawa. Berbagi kebahagiaan. Mencoba untuk serius, meski tetap saja tak mampu menahan bakat ngusil.
Dan, kuacungkan jari kelingking, telunjuk dan jempol kepada kalian, Dear.
Yes, I Do Love You ALL 
Terimakasih 
WiDut <3
Jelang Maghrib, Minggu, 13 April 2014
Yippi, Bagi sahabat yang ingin bergabung, ayuuuukkk. Merapat ke Selasar Kartini dan menjadi sahabat bagi teman-teman deaf. jika ingin bertanya lebih banyak, ngoceh saja di inbox WiDut yak. (*modus :v

Posting Komentar