Lantas memindai aib-aib. Dengan mimik muka yang lara.
Kasihan, katanya.
Mengungkapkan dalam kecemberutan.
Kasihan, katanya.
Tak henti membeber satu-satu. Menguliti. Menyajikan dengan segudang lara yang entah dipungut darimana.
Kasihan, katanya.
Kasihan, tetapi membuat tertekan.
Kenapa tak mengungkapkan dalam kidung-kidung doa. Memohon kepada-Nya, agar ia mengentaskan laranya.

Posting Komentar