ABOUT GABRIELLA

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Mauris sodales, libero vitae sollicitudin pretium, lectus augue tempor turpis, et pharetra velit magna a sapien. Etiam accumsan suscipit justo, id volutpat risus varius sit amet. Curabitur semper mi faucibus arcu hendrerit lobortis. Aenean ut ante vel elit scelerisque sodales vitae et velit. Maecenas suscipit nunc lorem.
Read More
  • Labels
  • Fashion

    JOIN US ON INSTAGRAM

    Recent in Sports

    Design

    Bolehkah Kupinjam Telingamu?

    Posting Komentar

     

    Bolehkah aku meminjam telingamu?

    Agar lafadz ayat-Nya tak melulu salah dan aku bisa melanjutkan mimpiku tentang si merah itu?

    Mengikuti irama-irama para guru yang mulia, syahdunya.

     

    Bolehkah aku meminjam telingamu yang desibelnya normal?

    Agar aku tak perlu men-set alarm getaran jauh sebelum adzan shubuh bergema.

    Dan aku bergegas mengambil wudhu tanpa takut shubuh telah berakhir dan mentari terbit di ufuk timur sana.

    Agar aku tak perlu lagi bertanya kepada sesiapa di dekatku, “Sudah adzan kah?” Ketika aku merasa waktu sholat telah tiba.

     

    Bolehkah aku meminjam telingamu?

    Aku ingin turut mengaminkan dengan lirih setiap doa-doa yang terpanjat. Karena aku belum pernah sekali pun mengaminkan doa-doa orang-orang yang memimpin doa, kecuali sebatas; Duhai yang Maha Mengabulkan doa, kabulkanlah yang terbaik untuk mereka.

     

    Bolehkah aku meminjam telingamu?

    Betapa aku iri denganmu yang terisak saat mengikuti dzikir, sementara aku pun menangis, bukan lantaran dzikir-dzikir yang menyentuh, namun ketakberdayaanku untuk mengikuti lantunan dzikir-dzikir itu.

     

    Bolehkah?

    Bolehkah? Agar kau tak mengeluh ketika desingan nyamuk mengganggu tidur malammu yang lelap.

    Dan kau bisa melanjutkan mimpimu tanpa harus menutup kepalamu dengan bantal saat adzan shubuh bergema.

     

    Ah, mimpi.

    Cukuplah kiranya kau ceritakan padaku, bagaimana tentang adzan yang saling bersahutan dari berbagai masjid. Lalu, ketika masjid di dekatmu tengah melantunkan sholawat, masjid di ujung sana tengah menggemakan adzan, begitu terus, entah berapa kali. Agar aku bisa membayangkan syahdu shubuh-Nya.

     

    Bolehkah aku bertanya kepadamu?

    Bagaimana menyentuhnya suara para imam ketika memimpin jama’ah? Agar aku bisa membayangkan, dan diam-diam menggetarkan bayangan suara itu dalam ruang-ruang hati. Barangkali aku bisa menangkap sejuknya.

     

    Aku berulangkali mengalami  halusinasi, tentang suara-suara yang tengah melantunkan ayat cinta-Nya, tentang takbir yang menggema saat hari raya. Ah, asal kau tahu, saat hari tasyrik terakhir dzulhidjah ini, aku terbangun dengan takbir yang menggema entah darimana. Beberapa kali menggema suara orang berteriak ketika ada getaran berdebam yang kurasakan, traumatik beberapa tahun silam.

     

    Tetapi ketika lelaki yang kukasihi menawarkan untuk bertemu dengan orang yang sekiranya bisa menjadi perantara Robbuna agar aku sembuh, aku menjawab dengan lirih, “Aku takut nikmat itu membuatku lalai, aku takut jika...”

     

    Lalu kami terdiam, hanyut dalam hening.

    Nyatanya ini bukan hanya persoalan telinga sembuh belaka, tapi tentang kesiapan hati.

    Widi Utami
    Widi Utami
    Pengagum pelangi, penikmat coklat, penggila ungu yang mencoba untu terus berbagi sebagi wujud untuk mensyukuri nikmat Robbuna yang luaar biasa.

    Related Posts

    Posting Komentar