Bolehkah aku meminjam telingamu?
Agar lafadz ayat-Nya tak melulu salah dan aku bisa melanjutkan mimpiku tentang si merah itu?
Mengikuti irama-irama para guru yang mulia, syahdunya.
Bolehkah aku meminjam telingamu yang desibelnya normal?
Agar aku tak perlu men-set alarm getaran jauh sebelum adzan shubuh bergema.
Dan aku bergegas mengambil wudhu tanpa takut shubuh telah berakhir dan mentari terbit di ufuk timur sana.
Agar aku tak perlu lagi bertanya kepada sesiapa di dekatku, “Sudah adzan kah?” Ketika aku merasa waktu sholat telah tiba.
Bolehkah aku meminjam telingamu?
Aku ingin turut mengaminkan dengan lirih setiap doa-doa yang terpanjat. Karena aku belum pernah sekali pun mengaminkan doa-doa orang-orang yang memimpin doa, kecuali sebatas; Duhai yang Maha Mengabulkan doa, kabulkanlah yang terbaik untuk mereka.
Bolehkah aku meminjam telingamu?
Betapa aku iri denganmu yang terisak saat mengikuti dzikir, sementara aku pun menangis, bukan lantaran dzikir-dzikir yang menyentuh, namun ketakberdayaanku untuk mengikuti lantunan dzikir-dzikir itu.
Bolehkah?
Bolehkah? Agar kau tak mengeluh ketika desingan nyamuk mengganggu tidur malammu yang lelap.
Dan kau bisa melanjutkan mimpimu tanpa harus menutup kepalamu dengan bantal saat adzan shubuh bergema.
Ah, mimpi.
Cukuplah kiranya kau ceritakan padaku, bagaimana tentang adzan yang saling bersahutan dari berbagai masjid. Lalu, ketika masjid di dekatmu tengah melantunkan sholawat, masjid di ujung sana tengah menggemakan adzan, begitu terus, entah berapa kali. Agar aku bisa membayangkan syahdu shubuh-Nya.
Bolehkah aku bertanya kepadamu?
Bagaimana menyentuhnya suara para imam ketika memimpin jama’ah? Agar aku bisa membayangkan, dan diam-diam menggetarkan bayangan suara itu dalam ruang-ruang hati. Barangkali aku bisa menangkap sejuknya.
Aku berulangkali mengalami halusinasi, tentang suara-suara yang tengah melantunkan ayat cinta-Nya, tentang takbir yang menggema saat hari raya. Ah, asal kau tahu, saat hari tasyrik terakhir dzulhidjah ini, aku terbangun dengan takbir yang menggema entah darimana. Beberapa kali menggema suara orang berteriak ketika ada getaran berdebam yang kurasakan, traumatik beberapa tahun silam.
Tetapi ketika lelaki yang kukasihi menawarkan untuk bertemu dengan orang yang sekiranya bisa menjadi perantara Robbuna agar aku sembuh, aku menjawab dengan lirih, “Aku takut nikmat itu membuatku lalai, aku takut jika...”
Lalu kami terdiam, hanyut dalam hening.
Nyatanya ini bukan hanya persoalan telinga sembuh belaka, tapi tentang kesiapan hati.

Posting Komentar