ABOUT GABRIELLA

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Mauris sodales, libero vitae sollicitudin pretium, lectus augue tempor turpis, et pharetra velit magna a sapien. Etiam accumsan suscipit justo, id volutpat risus varius sit amet. Curabitur semper mi faucibus arcu hendrerit lobortis. Aenean ut ante vel elit scelerisque sodales vitae et velit. Maecenas suscipit nunc lorem.
Read More
  • Labels
  • Fashion

    JOIN US ON INSTAGRAM

    Recent in Sports

    Design

    KADO UNTUK IBU

    1 komentar


    “Aku tak mengerti!!!!” teriakan itu membuat Tami kaget. Bukan karena kerasnya suara tetapi teriakan itu datang dari Mas Slamet , orang yang selalu menguatkannya.
    “Mas, peyan kenapa? Ada masalah?Mas ga sendiri. Dik Tami ada kok.”
    “Hmm…” Hanya senyuman yang didapat , Tami kecewa.
    “Dik , maaf ya. Mas pengen sendiri. Adik bisa keluar bentar?”
    Kecewa, hati Tami tersayat perih. Tidak menyangka sebegitu rapuhnya Kakaknya sekarang. Tidak tau apa yang harus dilakukan.
    Dengan langkah gontai Tami keluar , tak sanggup membendung air matanya yang mengembang di pelupuk mata.
    “Maafkan aku kakak , adikmu yang rapuh ini…” lirih kata – kata itu keluar dari mulutnya, raut mukanya semakin tak karuan.
    Adik sayang kamu kakak…
    Adik tak mau kakak seperti ini…
    Sebegitu rapuhkah adik di mata kakak?
    Hingga kakak tak mau cerita…
    Ya Rabb.. apa yang dia pikirkan??

    ***
    “Ibu, ayah belum pulang?” serak basah Tami bertanya kepada Ibu , pertanyaan yang tak perlu dijawab. Semua orang tahu Pak Ridha, bapaknya jarang pulang ke rumah.
    Senyap ,menyanyat hati siapapun yang bertandang di rumahnya, tersayat pilu bagai ditusuk pedang berkarat. Kesedihan yang teramat dalam, sudah 3 bulan Pak Ridha tidak pulang. Ntah apa penyebabnya, Tami tak tahu pasti.
    Aku tak guna…
    Mawar telah layu
    Melati pun tak lagi harum
    ***
    Ya Rabb…
    jika kesedihan ini membuatku selalu berada di genggaman Mu..
    Kuatkan hamba.. Pecut hamba dengan tali kasih sayang Mu


    Ya Rabb, jagalah Ayah…
    Terimalah keikhlasan bunda…
    Mudahkan Ayah menjalankan kewajibannya..
    Niatnya begitu mulia..

    Ya Rabb.. kepada Mu lah hamba memohon..
    Kepada Mu lah hamba berserah diri..
    Berikan yang terbaik untuk hamba dan keluarga hamba
    Hanya Engkaulah yang mengetahui apa yang terbaik buat kami..

    Amiiinnn..
    Trenyuh mendengar Mas Slamet berdoa di kamar sebelah , air matanya menetes tak terbendung. Air mata tumpahan kesakitan , kebenciannya pada ayah semakin menggelora. Api itu semakin berkobar. Tami semakin tak mengerti dengan do’a yang terucap dari mulut Slamet. Kenapa dia bilang niat Ayah begitu mulia?
    Berlahan Tami beranjak menyusul sang kakak di kamar sebelah.
    “Mas…”
    “Iya dik , adik blum tidur?”
    “Blum Mas , adik ga bisa tidur. Pikiran Adik kalut,”
    “Kenapa? Kepikiran ayah?”
    “Emmmm… “
    “Dik, sudah. Sekarang Adik belajar, ayah pasti pulang. Insya Allah,” Slamet berusaha menenangkan sang Adik , walau dalam hatinya terbesit ragu Ayah akan kembali ke rumah. Hati kecilnya berontak , tak tega melihat Ibu dan Adiknya kian menderita karena ulah sang Ayah.
    Hening , tiada suara. Hanya dengusan nafas dan detak jantung yang berlarian.
    “Mas, Adik ga mau Ayah pulang!!!!!!” Lemah , menyakitkan. Serasa jantung dihantam palu, batu menumpuk bertubi tanpa kendali. Slamet tercekat, tak percaya.
    “Dik, Jaga omonganmu!!! Adik tak punya hati!!”
    “Hah? Tak punya hati? Bukannya Ayah yang tak punya hati? Ayah yang tak punya harga diri!! Ayah yang kejam, Ayah yang tak punya nurani!! Adik benci Ayah, sangat!!”
    “Adik malu Mas punya Ayah seperti Dia, jika Adik boleh meminta… pasti Adik ga mau dilahirkan dari mani Seorang Pria semacam dia!!!” Hati itu sudah tak berbentuk lagi , ntah sebanyak apa kadar empedu yang terkandung di dalamnya. Pepatah jawa ‘legi brotowali’.
    “Dik , jaga omongan kamu! Bagaimanapun juga beliau Ayah kita!!”
    “Ayah? Sudah berapa kali Adik bilang mas? Adik benci dia!!! “
    Hati Slamet sesak , air matanya menghujam bumi. Jantungnya berlari semakin cepat , tekanan darahnya terbang membumbung. Emosi itu tak lagi dalam kendali. Tangannya terangkat , ingin menampar sang Adik yang melecehkan Ayah tercinta.
    “Mas pengen nampar Adik? Tampar aja! Tampar!!” Emosi Tami semakin berkobar, semakin memperkeruh suasana.
    “Mas.. Jangan tampar Adik.. ..” Suara lembut sang Bunda, bagai angin semilir mendamaikan kalbu. Tekanan darahnya yang mendidih membeku dalam hitungan detik. Empedu di hatinya ternetralisir dengan suara sayup sang Ibu tercinta, kesadaran kembali hadir dalam memori otaknya.. Spontan , Slamet menurunkan tangannya.
    “Astaghfirullah.. Ibu..”
    “Mas jahat!! Mas Jahat!!!” Tami berlari menuju kamarnya, hatinya tersayat pedih, perih. Kebenciannya pada sang Ayah semakin tak terkendali . ‘Aku tak akan panggil dia ayah lagi…’
    “Mas , mas tega mau nampar Adik? Adik itu Adik Mas .”
    Suara lembut sang Ibu membuatnya trenyuh. Kalut , rasa bersalah itu menumpuk , menggunung tak lagi mampu dipandang dimana puncaknya.
    “Ibu.. maaf..”
    “Minta maaflah pada adik dan kepada Nya. Tak perlu minta maaf pada Ibu.”
    Air matanya semakin deras , rasa bersalah itu tak lagi terdeteksi. Dia sudah tenggelam dalam kubangan penyesalan.
    Hatinya hancur lebur , bagai kaca dihempaskan kepada sang batu , empedu itu semakin meningkat. Luka itu , luka penyesalan semakin dalam. Slamet semakin tak mengerti apa yang harus dilakukan , dalam sujudnya ditumpahkannya air mata penyesalan.
    ***
    Mawar itu telah layu.. tak lagi bersemi
    Aku harus pergi..
    Sampaikan sembahku pada Ibu, aku pasti kembali..
    “Mas Slamet!!!!! Mas..” Tami berteriak keras , suaranya merambat ke udara serasa jet tempur mengeluarkan serangan bom, Ibu tergopoh lari. Tecekat dengan suara anaknya yang melengking.
    “Adik, ada apa dengan Mas Slamet?” Dilihatnya Tami, sang buah hati berurai air mata.
    “Mas Slamet Bu.. Mas Slamet nyusul Ayah..”
    “Ya Rabb…” Nanar, tatapan matanya semakin sayu. Hati ibu serasa dihantam palu, darahnya serasa berhenti mengalir, pandangannya kabur. Ibu tak berdaya, jatuh.
    “Ibu.. Ibu…..” Hati itu tak lagi hancur, melumat lembut tak terbentuk. Sakitnya tak lagi terhantam palu, tertusuk keris disayat – sayat.sakit yang tiada mampu didefinisi.
    Hening, Tami merenungi perjalanan hidupnya yang begitu gelap, segelap malam tanpa bintang. Film-film terus berputar dalam memori otaknya, semakin hari Tami semakin membenci sang Ayah, dia telah membuat Ibu menderita.
    Pikirannya menerawang jauh, menggapai bintang di langit biru. Mengadu kepada Nya akan nasibnya yang begitu kelam.berharap keadaan semakin membaik. Air matanya tak dapat dibendung, lara hatinya yang begitu dalam membuatnya semakin tegar. Tami tak lagi gadis yang rapuh.
    ***
    “Dik, besok sudah puasa. Adik mau makan apa buat sahur?”
    “Seadanya saja bu..”
    “Ya udah dek, Ibu masak dulu ya..”
    Ramadhan ini Tami lalui hanya berdua dengan Ibu,hati kecilnya berontak. Tami merasa ada yang hilang, sebuah perasaan yang tak mampu didefinisikan. Hatinya semakin tercabik perih, keadaan Ibunya yang semakin melemah membuatnya tak sanggup menampung semua ini sendiri.
    Ibu harus opname, Tami tak tahu apa penyakit yang diderita Ibu. Terpaku Tami melihat Bunda yang semakin lemah, selang infus itu menyuplai makanan untuk Bunda.
    “Dik, Adik.. kesini bentar,” Lemah, Ibu memanggil sang buah hati yang setia menemani.
    “Iya bu, Tami ada kok..”
    “Dik, jika Ibu tiada.. jika Ibu tak lagi menghirup udara dunia.. Adik tetap jalin silaturahmi dengan Mas dan Ayah ya.. jaga mereka untuk Ibu.. Ibu sayang kalian. Jangan sekai – kali benci Ayah, Ayah ga jahat, Ayah sangat baik.” buliran bening nan suci itu keluar dari kelopak mata Ibu, Ibu yang begitu tabah menahan semua beban hidup. Ibu yang sangat mulia, menderita tanpa membawa dendam. Ibu yang sangat mulia dihadapan Nya.
    “Ibu.. Ibu ga boleh ngomong gitu.. besok lebaran tiba Bunda.. Sebentar lagi hari kemenangan tiba, Adik ingin tetap bersama Ibu.. Adik ga mau sendiri…Adik ingin bertakbir bersama Bunda..” sesunggukan Tami memeluk sang Ibu yang terbaring di Rumah sakit, tubuhnya kian kurus digerogoti kerinduan yang menyebabkan nafsu makannya hilang.
    Mata Ibu terpejam, lelah menangisi sang Anak dan Suami yang tak kunjung kembali. Tami bangkit, diambilnya air wudhu untuk membasuh segala kepenatan.
    Dihamparkannya sajadah disamping Ibu berbaring. Ditegakkannya sholat malam untuk mengadu kepenatan hidup kepada Nya. Dia yang Maha Kuasa, yang Maha Penyembuh segala penyakit..
    “Assalamualaikum…. “ Suaranya begitu lembut, menentramkan hati menggetarkan jiwa.Tami menoleh, mencari asal suara itu.
    “A..yah..??” Terpana Tami melihat Ayahnya yang begitu berwibawa,di sampingnya ada seorang perempuan berjilbab hijau yang begitu anggun menggendong seorang bayi. Tami terpana dengan perempuan itu, betapa tidak? Cantik , berjilbab anggun, membuat semua orang yang memandangnya tentram.
    “Mas Slamet..” Tami tak menyangka, orang – orang yang ditunggu Ibu muncul secara bersamaan, padahal sebelumnya mereka menghilang tak tentu rimbanya, bagai ditelan bumi, tak ada kabar.
    “Wa’aalaykumsalam Warhmatullahi Wabarakatuhu,” Jawab Tami dengan tergagap.
    “Dik, bagaimana keadaan Ibu?” Pak Ridha bertanya pada anaknya dengan senyum mengembang penuh arti.
    “Lihat ndiri..” dengan ketus Tami menjawab pertanyaan sang Ayah, hatinya diliputi rasa kebencian.
    “Dik, bisa sopan dikit ga? Itu Ayah…” Slamet tak suka dengan jawaban Adiknya yang terkesan tak punya sopan santun.
    “Terserah Adik mau jawab atau gag.. masih mending Adik jawab, kalo ga???” Sebal tingkat teringgi, kata kata Tami sangat menusuk hati.
    Ayah tersenyum menerima perlakuan anaknya, didekatinya Sang istri yang terbaring lemah. Tami tak terima, dengan mudahnya sang Ayah mendekati Ibu tanpa rasa bersalah. Tami tak terima!!
    “Jangan dekati Ibu!!!” Bentaknya keras.
    “Kenapa dik? Ayah kangen Ibu.. Kenapa ga boleh??”
    “Heh?? Ga nyadar juga kalo gara – gara kamu Ibu jadi sakit kaya gini!”
    Sakit! Bagai tersambar kilat di siang bolong, Pak Ridha tak menyangka reaksi yang diterima dari anaknya. Air mata meleleh , air mata yang asin meleleh dari kelopak mata lelaki itu. Slamet tak kuasa menahan tangis, perempuan berjilbab hijau itu sesunggukan menahan air matanya agar tak mengalir deras. Tami semakin tak mengerti dengan ini semua, reaksi dari orang – orang disekitarnya yang diluar dugaan.
    “Ayah.. suamiku..” perasaan membuncah, bahagia, melihat sang Suami ada didepannya.Pak Ridha beranjak mendekati sang Istri. Tami tak kuasa menahan, hanya terpaku diam menyimpan seribu tanda tanya.
    “Iya sayang, Aku disini,” Pak Ridha mengecup kening istrinya dengan mesra, kerinduan setelah 3 bulan tak bertemu ditumpahkan begitu saja.
    Ibu tersenyum tulus, aura kebahagiaan memancar dari wajahnya. Tanda tanya di otak Tami semakin berlipat, Tami semakin tak mengerti.
    “Sayang, maafkan Ayah ya, baru bisa nengok Ibu..”
    “Ga pa pa Ayah, Ibu baik baik saja kok. Hmm , gimana keadaan buah hati Ayah yang baru? Dik Bekti?” Bagai disambar geledek, tekanan darah Tami meningkat tajam, otaknya mendidih.
    “Apa Bu?? Buah hati Ayah yang baru??..” Buliran bening mengalir di wajahnya, terungkap jelas sudah, perempuan yang dikaguminya itu Istri Ayah, madu Ibu, dan Ibu tirinya.
    “Ayah.. menikah lagi???!!” Hati itu jatuh bekeping keeping, kebenciannya pada Ayah semakin menjadi. Sebegitu kejamkah Ayah? Menduakan Ibu yang tak kalah cantik, Ibu yang dengan susah payah melahirkan Tami dan Slamet buah hatinya??
    “Ayah jahaaaat!!!!!!!” Tami keluar dari ruangan, hatinya remuk redam. Tak kuasa menerima kenyataan.
    ***
    Tami memandang langit biru, duduk dihamparan rumput hijau depan ruangan Ibu. Hatinya goyah, Tuhan tak adil..
    “Dik…”
    Tami tak menoleh, suara itu suara orang yang sangat dibencinya.
    “Dik, boleh Ayah duduk disini?” Dengan lembut Pak Ridha mencoba mengambil hati sang Anak, Dia tahu, kenyataan ini begitu pahit buat Tami.
    “Dik, Ayah kangen adik. Rindu..” suara sang Ayah menyiram relung kalbunya, tak dipungkiri Tami merindukani momen ini.
    Tak ada reaksi, Ayah kecewa.
    “Dik, sekarang waktunya Adik tahu apa sebenarnya yang terjadi..”
    “Apa? Perempuan itu istri baru Ayah?”ketus Tami menyambung Ayah, semua itu sudah jelas dihadapannya. Air matanya semakin mengalir deras/
    “Dik, bukan maksud ayah untuk menduakan Ibu, tapi Ibu yang meminta Ayah menikahinya.” Tami tercengang, kenapa Ibu tak menceritakan semua ini padanya?
    “ Ayah sangat sayang Ibu , sayang adik, sayang mas. Tak ada yang dapat menggantikan kalian disisi Ayah. Tak pernah terbesit dalam diri Ayah untuk menduakan Ibu, tapi ketahuilah Nak.. Hati Ibu begitu mulia, bersih bagai kapas, ayu bagai bidadari surga, menerangi hidup Ayah , lebih dari penerangan matahari di waktu siang… seindah namanya Nur Ayu Fitriyah..” Mata Pak Ridha menerawang, air mata meleleh di pipinya.
    “Ibumu Nak, begitu peka dengan keadaan orang sekelilingnya. Kenalan Ibu, seorang yang masih muda, dipaksa menikah dengan seorang laki laki konglomerat yang memandang harta diatas segalanya.. Ibumu.. tak tega membiarkannya terancam masa depan yang suram, satu-satunya jalan yang harus ditempuh, dia harus menikah sebelum dilamar. Ntah kenapa Ibumu menawarkan menikah dengan Ayah. Ayah tak mengerti jalan pikiran Ibumu nak..Dan orang itu adalah Mbak Bekti..” Pak Ridha semakin bergetar menceritakan semua itu kepada anaknya.
    “ Menolong sesama kewajiban seorang muslim, begitulah Ibu memberi alasan. Ayah tak mengerti, Ayah tak mau nak.. tapi tahukah kamu nak apa yang dilakukan Ibu? Ibu menangis, Ibu bersujud di kaki Ayah, nak.. siapa yang tega melihat orang yang kita cintai bersujud dihadapan kita??” Pak Ridha tak dapat menyembunyikan isak tangisnya. Tami semakin merasa bersalah, dirinya semakin tenggelam dalam kubangan penyesalan.
    Hening menyelimuti kedua insan, tenggelam dalam pikiran dan angannya sendiri. Hujan air mata mengiringi alam nan tenang tak berawan.
    “Ayah.. .. Ibu Yah….” Suara Slamet menyadarkan keduanya, membangkitkan Pak Ridha dan Tami dari kesibukan di dunia lain.
    “Ibu kenapa Mas?”
    “Ibu.. Ibu pingsan!” Sontak, Pak Ridha dan Tami berhamburan menuju ruang ICU. Kepanikan dan kekhawatiran menyelimuti semua insane yang ada di beranda.
    Hening, Tami semakin tenggelam. Mengutuk dirinya sendiri, mengutuk dirinya yang serba berburuk sangka kepada Ayah. Menyangka Ayah kejam dan tak punya hati,ternyata Ayah begitu mulia. Diinyalaj yang layak disebut tak punya hati.
    Kreeeet…
    Pintu ruang ICU terbuka, seorang wania berjillbab putih keluar dari ruangan.
    “Dok, gimana keadaan istri saya?” Suara parau Pak Ridha memecahkan keheningan.
    “Anda suaminya?”
    “Ya Dok, bagaimana keadaan Istri saya? Baik-baik saja kan?”
    “Hmm.. maaf Pak, Istri Anda menderita kanker darah stadium IV. Kemungkinan untuk selamat sangat kecil, kami hanya bisa berserah diri pada Nya.”
    “Ibu……. Jangan tinggalin Tami Bu…” Tami menjerit, tubuhnya lunglai lemas. Slamet langsung memapahnya. Pak Ridha dan Bekti hanya terpaku, air mata kembali menghujam.
    ***
    Umur itu misterius, siapa sangka satu detik kedepan kita tak lagi menghirup udara dunia.
    “Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Laa iLaa Ha ILLaLLahu Allahu Akbar.. Allahu Akbar Walillaa Ilham…” Alunan Takbir menggema dari seluruh penjuru, suara beduk bertalu talu mengiringi datangnya hari kemenangan. Umat Islam bergembira dengan datangnya hari kemenangan, bahagia suka cita menaungi hati seluruh insane, perjuangan terbesar untuk melawan hawa nafsu berakhir sudah.
    Tak beda dengan keluarga Tami, bersama mengalunkan lantunan tasbih di ruang ICU. Semburat kebahagiaan memancar dari wajah Ibu yang pucat. Hingga tiba waktunya, Ibu merasa ajal semakin dekat.
    “Ayah..”
    “Iya Bu.. Ayah disini temani Ibu..” Pak Ridha
    “Jagain Dik Bekti ya .. Jangan pernah menyakitinya.. Sakitnya adalah sakitku, bahagianya adalah bahagiaku.. Ibu sayang Ayah, maafkan Ibu Ayah, tak bisa mendampingimu mengarungi kehidupan ini. Maafkan Ibu Ayah, Ridhai kepergian Ibu, seperti Ayah ridha menjadikan Ibu sebagai pendamping Ayah..” Lemah, suara itu begitu lembut untuk didengar, menusuk relung kalbu orang yang menyayanginya. Ruangan itu mencekam, wajh menyedihkan terpampang. Tak mau kehilangan Bunda, Tami menangis sesunggukan di pundak Slamet. Bekti tak kuasa menahan air matanya, dipeluk buah hatinya erat – erat, tak ada rasa cemburu membakar hatinya. Bekti sangat kehilangan orang yang telah menolongnya, wanita yang sangat mulia. Rela membagi cinta untuk dirinya.
    “Ibu…” Lirih Tami memanggil sang Bunda tercinta, hatinya terkantuk palu.
    Fitri menatap sang Buah hati, direnggangkan tangannya untuk memeluk sang anak dalam sisa-sisa tenaganya. Senyumnya terpancar dalam wajah sendu, tiada guratan kesedihan yang terpendar dari wajahnya.
    “Nak,jika Ibu merenggang nyawa, sayangi Mbak Bekti sebagaimana kamu menyayangi Ibu. Dia juga Ibu kamu,adik itu juga adik kamu. Panggil dia Mama, hormati dia selayaknya Ibu kandungmu..”
    “Ibu..” Haru biru semakin kentara, semua orang di ruangan itu menegang otot wajahnya.
    “Nak, ini adalah hari terbahagia buat Ibu, akhirnya tak ada beban lagi. Semua telah Ibu ungkapkan, semua telah jelas didepanmu. Nak, hari ini adalah hari kelahiran Ibu, hari dimana Ibu menatap dunia dengan segala kecemasan. Ku penuhi permintaanmu nak, bertakbir bersama Ibu. Sekarang waktunya Ibu menghadap kepada NYA, maafkan Ibu , maafkan segala kesalahan Ibu. Sampaikan maafku pada semua orang yang Ibu sakiti. Jaga dirimu baik-baik nak..” Senyum Fitri semakin mengembang, raganya semakin lemas. Isak tangis semakin terdengar keras.
    Fitri memandang semua orang yang berada diruangan itu dengan senyaman terindahnya, senyuman terakhirnya sebelum menghadap kepadaNya.
    “Ini adalah kado ulang tahun dan lebaran terindah buat hamba ya Rabb. Assyhadu anlaa ilaa ha illalllah… Wa asyhaduanna muhammadarraosulullah…”
    “Innalillahi Wa Innalillahi Roji’un…”
    “Ibu….” Tami terisak, menjerit memanggil sang Bunda tercinta. Slamet mendekap sang Adik dengn kuat.
    Berlahan mata itu tertutup, wajah keteganan menyelimuti setiap yang memandangnya, hanya Fitri yang tertidur dengan senyumannya yang mengembang. Tidur yang abadi, di hari Fitri yang suci.




    Widi Utami
    Widi Utami
    Pengagum pelangi, penikmat coklat, penggila ungu yang mencoba untu terus berbagi sebagi wujud untuk mensyukuri nikmat Robbuna yang luaar biasa.

    Related Posts

    There is no other posts in this category.

    1 komentar