Berapa Bulir Nasi yang Tersisa di Piringmu?
Saudaraku, sudah makan? Dengan apa? Berapa piring? Berapa bulir nasi yang tersisa di piringmu?
Habis? Subhanallah, saudaraku memang hebat. Patut dicontoh. But, tunggu! Jangan keburu gembira, jika kekenyangan, sama saja memupuk kemalasan di tubuhmu, kata kakak saya: "makan itu diukur, jangan asal ciduk." hehew
Ga habis? Wadhuh, kenapa? Takut dibilang rakus? memang sudah kenyang? Atau. . Kebanyakan stok makanan?
Saudaraku, kalian tahu, seberapa besar perjuangan petani untuk mendapatkan sebulir beras? Aku yakin, jika tahu. Pasti Tidak AKAN TEGA menyisakan sebulir nasi pun dalam piringmu.
Butuh waktu hampir 6 bulan untuk mendapatkan sebulir padi. Begitulah kira-kira ilmu yang kudapat ketika menginjak bangku kelas 5 SD. Melekat kuat dalam otakku,ketika guruku menjelaskan seputar waktu bertanam, di sela-sela menanam bayam di kebun belakang sekolah.
Benar-benar waktu yang sangat lama. Tidak sebanding dengan uang yang mereka dapatkan, belum lagi resiko gagal panen akibat hal yang tak terduga.
Petani bekerja semenjak ayam berkokok hingga tenggelamnya mentari. Mencangkul, mengaliri sawah, menyiangi rumput. Pekerjaan mereka membutuhkan ketelatenan, membutuhkan semangat pantang menyerah, butuh tenaga luar biasa.
Harga pupuk yang mahal, banyaknya calo di negeri kita membuat pupuk yang mahal semakin mahal. Sementara, masyarakat menghendaki harga yang murah. Yah, bisa ditebak, rata-rata petani hidupnya gali lubang tutup lubang.
Hh, rasanya tidak lengkap jika kita tak menguak, meneliti satu persatu perjuangan mereka. Yuuk
pertama, mereka akan membajak sawah untuk menggeburkan tanah. Biasanya, menggunakan tenaga kerbau. Dengan telaten, sang petani menggiring kerbau sembari memegang pelecut. Hal ini membutuhkan waktu yang tidak singkat, petani rela terpanggang terik sang mentari.
Setelah misi penggemburan selesai, petani akan mengairi sawahnya. Tak sembarang takaran yang diberikan, aliran air ke sawah membutuhkan ketelitian tertentu. Jika kekurangan, padi beresiko kering. Jika kelebihan atau overdosis, padi akan mengalami pembusukan.
Tibalah masa tanam, biasanya petani tak sendirian. Ditemani beberapa rekan petani, persaudaraan diantara mereka sangat erat.
Tibalah saatnya menunggu panen. Bukan berarti bisa duduk santai. Mereka harus menyiangi gulma yang tumbuh di sekitar padi. Menyemprot ddt untuk mengusir hama. Memberi pupuk secara berkala.
Dan, padi pun mulai menampakkan buliran hijau. Yang semakin lama semakin menguning, semakin merunduk karena berisi. Pada masa ini, petani beralih profesi menjadi pengusir burung.
Tibalah masa panen, lagi-lagi gotong royong. Aku lupa, apa nama alat untuk memetik padi. Sudah hampir 14 tahun aku tak terjun ke sawah. Bagaimana mau terjun? Sawah telah tergantikan gedung pencakar langit.
Berakhirnya masa panen, bukan berarti pekerjaan mereka telah selesai. Apesnya, harga gabah akan merosot tajam ketika masa panen tiba. Lagi-lagi petani harus mengelus dada. Itu masih mendingan, jika gagal panen? Ah, semakin merana.
Masih suka menyisakan buriran nasi di piring? Renungi perjalanan padi dari ditanam hingga masuk ke perutmu, hebatnya perjuangan petani, rumitnya Ibu memasak, dan melambungnya harga bahan pokok membuat tenggorokan semakin tercekik.
Hmm, yuuuk. Mulai sekarang, habiskan makanan tanpa tersisa sebulirpun.
aisyah Al-Khansa
08042010
04.15 pm


Posting Komentar