Kak, maafkan aku. Menulis surat ini lagi. Mengusik kebahagiaanmu, menikmati senja di sungai berteman bidadari.
bukan-bukan, ini bukan surat cinta. Ini bukan surat bertinta merah jambu, ataupun bertahtakan mawar sendu.
Bukan-bukan, aku tak akan bercerita tentang pelangi itu lagi.
Hanya sebuah jeritan hati, seorang bocah yang merenungi hari.
Rupanya, kiamat 2012 bukan sekedar wacana. Tidak, bukan aku percaya kiamat akan terjadi di tahun cantik itu. Tapi, aku tahu. Kerusakan hebat kan bertandang dalam waktu dekat.
Bumi ini semakin ganas, tempo hari banjir karawang menenggelamkan ribuan rumah. Setinggi atap, kak. Aku pun tak berkedip, ketika melihat Karawang di balik kotak ajaib itu. Ayah kak, Ayah kita berseloroh "Karawang lebih pantas di sebut danau," ah, itu tak berlebihan, kak. Ngeri aku, air hitam pekat itu merenggut rumah saudaraku. Rumah yang katanya surga dunia, berubah jadi neraka beku untuk sementara waktu. Entah, sampai kapan. Aku tak tahu.
Kak, ingatkah? Sawah tadah hujan yang mengelilingi rumah kita? Sawah hijau, tempat yang tepat untuk bersembunyi. Hamparan hijau itu telah di sulap menjadi beton besi, kepulan asap pekat membuat langit tak biru lagi. Dengungan mesin membuat telingaku semakin tuli. Adik-adik kita tak lagi kenal padi. Yang dikenalnya hanya truk trailer, dengan supir yang hobi menggoda cewek pemakai rok mini.
Ingat Juwet? Buah berkulit ungu tipis? Dengan rasa kecut, asem, manis? Yang selalu menjadi rebutan anak-anak kampung, sembari bermain gobaq sodor. Sekarang, aku tak menemui buah itu lagi. Entah, dia bermetamorfosis jadi apa. Dulu, aku mencarinya bersama teman pramukaku. Tapi bukan juwet yang kutemui, aku disodori jeruk. Entahlah, jeruk itu sama sekali tak kusukai. Rasanya tak lagi alami, pikirku ini jeruk transgenik.
Canda tawa yang lugu, sekarang lenyap. Berganti wajah palsu, dengan setumpuk kosmetik peracun. Kamu tahu, kak? Berapa lapis yang mereka gunakan? Kata iklannya, 7 lapis! Ah, rupanya sang produser tahu lapis terbaik. Mungkin, dia mengaca dari Robbuna. Yang menciptakan langit 7 lapis. Hebat bukan, kak?
Perangko sekarang tinggal koleksi, buat filateli. Sekarang, anak buruh pun kenal dunia maya. Termasuk aku ini. Jangan tertawa, kak! Ini bukan humor. Sekarang, tak sekedar chatting. Namun, cinta pun bisa terjalin lewat teknologi ini. Jangankan cinta, perdagangan gadis pun bermula dari sini.
Aku pun mengenal mereka lewat dumay, kak! Jangan khawatir, mereka tak akan menculikku seperti di tv-tv itu.
Aku kangen permainan itu, kak. Yang memaksaku lari belepotan blethok. Dengan kulit gosong dipanggang terik mentari. Gobaq sodor, betengan, kasti, ban bledhos, petak umpet, dan permainan lain. Entah, aku lupa namanya. Tempo hari, adik-adik memintaku mengajak mereka bermain. Ah, rupanya ps pun mengundang kebosanan. Aha! Kak, beruntunglah aku hidup di zaman itu, permainan tanpa butuh merogoh kocek. Jika aku kecil sekarang, tentu aku tersisih.
Kak, masih banyak yang inginku utarakan. Tentang kejujuran, yang lebih mahal dari mutiara hitam. Tentang ujian yang penuh kelicikan. Tentu saja, tentang kenestapaan petani desa kita yang kalah dengan para konglomerat. Ah! Langit pun tak biru lagi.
Aisyah al-Khansa
310310

Posting Komentar