ABOUT GABRIELLA

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Mauris sodales, libero vitae sollicitudin pretium, lectus augue tempor turpis, et pharetra velit magna a sapien. Etiam accumsan suscipit justo, id volutpat risus varius sit amet. Curabitur semper mi faucibus arcu hendrerit lobortis. Aenean ut ante vel elit scelerisque sodales vitae et velit. Maecenas suscipit nunc lorem.
Read More
  • Labels
  • Fashion

    JOIN US ON INSTAGRAM

    Recent in Sports

    Design

    Bang Yit: Cuma Telinga Saja, yang Lain Mana?

    Posting Komentar

    Foto0105

    Aku sama sekali tidak menyangka jika akan bertemu dengan seseorang yang kukagumi semenjak tujuh tahun yang lalu. Seorang deaf yang menikah dengan perempuan ayu yang juga mempunyai keistimewaan yang sama, hebatnya, beliau  memiliki anak normal yang prestasinya tak perlu diragukan lagi.

    Saat itu aku tengah galau dobel-dobel. Jengkel karena antre untuk periksa THT sebegitu panjangnya, plus dagdigdug plass lantaran ketakutan dengan bilik uji pendengaran. Aku mondar-mandir, membaca apapun yang bisa kubaca. Hingga aku menemukan profil beliau tertempel di dinding kaca RSK THT, tercengang manakala membaca bahwa beliau berasal dari Salatiga. Akankah aku bertemu suatu saat nanti?

    Allah mempertemukan kami ketika aku berteduh di tengah rintik hujan. Memulai percakapan dengan bahasa campur aduk, antara bahasa isyarat dan bahasa oral. Bertukar cerita terkait Walitura, kehidupan sehari-hari, hingga ketika beliau menceritakan terkait pengalamannya, aku menyadari sesuatu.

    “Abang, yang profilnya dimuat di koran. Di tempel di RSK THT Syifa Rohmani?” tanyaku, penasaran.

    Beliau mengangguk, tersenyum dengan senyumannya yang khas.

    Aku memanggilnya bang Yit, biasanya usilku kambuh jika berhadapan dengan beliau. Seseorang yang menjadi orangtua sekaligus kakak bagi kami di Walitura. Seseorang yang dulu memulai wadah komunitas untuk tunarungu Salatiga. Beliaulah yang menjadi penerjemah ketika aku harus berbicara di depan teman-teman deaf, meski sambil tersenyum mengejek; kapan bahasa isyaratmu lancar?

    Well, dua bulan aku belajar bahasa isyarat, baru lancar dengan dua komunikasi: terimakasih dan sama-sama. Selain itu jangan ditanya, lupa melulu hingga kak Adi dan Kak Henry-tentorku, deaf- ketawa gemas sampai menantang dengan hadiah uang limaribu.

    Bang Yit memulai sekolahnya di SLB Wonosobo. Jika aku tidak salah mengingat, saat SD-SMP-SMA beliau sekolah di sekolah umum. Aku lupa tepatnya pada tingkatan berapa beliau mulai sekolah di sekolah umum.

    “Guru Abang gemas, setiap ada pertanyaan, abang melulu yang jawab,” tawanya berderai, aku meningkatkan fokus, “Makanya, abang disuruh pindah ke sekolah umum.”

    Aku terpukau, abang sepertinya orang yang sangat cerdas. Sayang, kecintaan beliau dengan olahraga membuat sekolah sedikit terabaikan. Cinta mati dengan olahraga rupanya, terlihat dari aktivitasnya sekarang yang masih saja awet menjadi guru olahraga hingga membentuk komunitas atletik khusus difable. Semakin salut.

    Istri beliau bekerja di rumah sakit, bagian gizi, meracik makanan untuk pasien. Beliau sendiri pernah menjadi asisten dokter ketika operasi. Sosok multitalenta.

    “Abang, Widi mau dong diajari jahit.” Usikku ketika kami berbincang menunggu teman deaf yang tengah rapat. Ssttt, kurang ajar, ya.

    “Widi nggak bisa jahit?”

    Aku menggeleng, bang Yit tertawa, “Itu, teman-teman sudah abang ajari.”

    Aku pun mengendapkan tanya ketika kak Adi ribut minta kami memfokuskan mata untuk rapat. Rapat terhening yang pernah kuikuti, hanya tangan-tangan yang bergerak, sesekali diiringi gelak tawa tanpa suara.

    “Mbak jahit?” tanyaku kepada perempuan berambut keriting, tentu saja dengan bahasa isyarat ala WiDut.

    Perempuan itu mengangguk, matanya menyiratkan selaksa syukur. “Abang yang melatih menjahit.”

    Aku mencolek jempol ke dagu dua kali, “Siapa?”

    “Bang Yit, “ tangannya mengisyaratkan abjad, Y, I, T.

    Abang lagi. Benar-benar, kau, Bang. Mengajari apapun yang kau bisa agar teman-teman memiliki skill yang layak.

    Beberapa kali bang Yit mengajakku untuk ikut bergabung dengan kegiatan Walitura. Sayang, aku jarang bisa mengikuti lantaran kegiatan berlangsung di malam hari. Saat aku masih bergelut dengan pembenahan hati.

    Beberapa gagasan ditebar. Dari panthonim, theater hingga hasta karya. Theater yang memunculkan berbagai ide untuk penggalangan dananya.

    Kalian mau tahu bagaimana? Aku berulang kali berseru tahmid ketika mengikuti rapat Walitura. Ada dua opsi untuk mencari dana yang akan digunakan untuk keperluan theater, Theater Diam, namanya. Opsi pertama, menampilkan pantonim di dua cafe. Aku lupa kafe apa, yang kuingat hanya satu, kafe Merah Putih yang terletak di jalan Diponegoro. Opsi kedua, mengumpulan kaos bekas.

    “Untuk apa, Bang?”

    “Tas, lalu dijual.” Jawabnya ketika, lagi-lagi, kami berbincang ketika teman-teman masih sibuk rapat.

    “Dijahit?”

    Bang Yit mengangguk.

    “Aku mau ikuuuut!” seruku.

    “Silahkan, asal kamu ada waktu,”

    Aku tertawa, “Abang tahu aja jika aku sok sibuk. Hahaha.”

    “Abang nggak mau teman-teman disini nganggur, Widi.” Matanya memandang teman-teman yang tengah berbincang. “Abang ingin mereka mandiri.”

    Itu bukan sekedar omong kosong jelang pemilu, Dear. Beliau sudah melakukan langkah nyata tanpa harus berkoar-koar. Beliau mencarikan alternatif kerja ketika teman-teman deaf lulus sekolah. beliau mengajarkan mereka berbagai macam skill. Mendukung kegiatan Walitura di tengah aktivitasnya yang seabreg.

    Bahkan beliau siap menjadi tukang ojek. Hihihi, peace, Bang, tetapi benar, kan?

    “Cuma telinga saja, Widi. Yang lain mana?” beliau mengajukan pertanyaan retoris yang tak perlu kujawab. Aku hanya tersenyum, malu. “Yang lain harus produktif, Widi. Manfaatkan itu. Tangan, kaki, mata. Untuk apa?”

    Sayangnya, kawan, bang Yit ini tidak mendaftarkan diri jadi caleg

     

    Barokallohu fiik, Bang.

    Allah Yahfadzk.

    Sehat selalu, untuk terus berbagi.

     

    Kamis, 3 April 2014

    Di sela-sela menungu peserta seminar J, teriring doa untuk beliau.

    09.52 am.

     

    Widi Utami
    Widi Utami
    Pengagum pelangi, penikmat coklat, penggila ungu yang mencoba untu terus berbagi sebagi wujud untuk mensyukuri nikmat Robbuna yang luaar biasa.

    Related Posts

    Posting Komentar