Aku selalu meyakini bahwa doa adalah kado terindah untuk siapapun. Termasuk untukmu. Bahkan jika pun kabarmu tak lagi mampu kudeteksi. Aku seperti mengalami hal yang sama ketika mengingat almarhum kakak tersayang; kak Ilham, yang kini nisannya saja aku tak bisa menikmati.
Layaknya angin, sejatinya memang tak mampu lagi kugenggam, namun aku bisa merasakannya, bahwa ia nyata adanya. Sejatinya memang aku tak mampu lagi memeluknya, namun Robbuna lebih Mampu Memberikan Pelukan yang lebih hangat dan damai. Aku pun memilih untuk memeluk dalam senandung doa.
Bapak selalu mewanti-wanti untuk mengirimkan doa kepada mereka yang telah tiada. Ibu berpesan agar sesekali menghadiahkan kakung bacaan Qur’an. Yai dhawuh agar aku membaca alfatikhah setiap ba’da sholat. Dan, paklik mengingatkan bahwa mereka yang masih hidup pun membutuhkan doa yang lebih lagi.
Layaknya angin, tak terlihat namun menyejukkan.
Aku selalu mengingat pesan bapak, bahwa membenci akan membuat hidupku semakin rapuh, cepat lapuk layaknya kayu yang digerogoti rayap. Pun yai, yang mewanti-wanti bahwa Robbuna Mencintai orang-orang yang memaafkan saudaranya, meminta maaf terlebih dahulu meski tak tahu kesalahannya.
Layaknya angin, tiadanya menunjukkan keberadaannya.
Tiadanya menghadilkan semesta yang indah.
Layaknya angin, aku akan merasakannya dengan senandung doa. Doa untukmu yang tengah menyepi dri kehidupanku yang kacau. Kelak kau akan tahu, sejatinya seperti apa. aku sealalu meyakini ini, bahwa tabir akan terbuka seiringnya waktu...
3 April 2014, 23.21

Posting Komentar