Bisu bukan berarti tak dapat berbicara bukan?
Ada banyak media yang bisa digunakan untuk meneriakkan pada dunia tentang keberadaan kami. Ada banyak cara untuk menyuarakan keinginan dan opini.
Pun kami, meskipun kebanyakan diantara kami tak mampu bicara, ada banyak hal yang bisa menyalurkan. Salah satunya adalah theater. Yes, selain pantonim kami punya theater. Theater Diam, namanya.
Awalnya, aku tak mampu membayangkan bagaimana teman-teman deaf bisa bermain teather. Well, dalam komunitas kami, selain volunteer, yang mampu berbicara bisa dihitung dengan jari. Tidak menghabiskan jari tangan kanan untuk menghitung. Maka, ketika aku diberi kabar oleh kak Adi jika Walitura mengadakan teater, aku terlonjak, penasaran.
Minggu, 6 April 2014 kemaren, rasa penasaranku terobati. Yes, Theater Diam. Aku menjadi saksi tentang semangat mereka untuk berkembang. Kami hanya bersembilan, namun tak melunturkan semangat untuk berlatih. Awalnya aku berniat hanya untuk menjadi penonoton. Hahaha, sembari melatih bahasa isyaratku yang acakadul. Jadwalnya jam 10, bang Yit sudah methungul di rumah waktu jam masih menunjukkan pukul setengah sepuluh kurang. Aku masih asyik dengan segunung setrikaan. Belum Mandi.
Dingin menyergap ketika aku memasuki kampus UKSW yang bertabur pepohonan. Hari libur masih berseliweran beberapa orang. Aku mengikuti bang Yit menuju parkiran. Ketika kami bersembilan berkumpul, kami pindah ke belakang Fakultas Keguruan. Dlosoran di depan toilet. Hahaha, where-ever, asal aku bisa nyaman duduk. its okay. Dipandu kak Sadewa—pelatih Theater Diam—kami memulai dengan doa, olahraga, berlanjut jalan-jalan. Kami mendapatkan ‘saku’ dari kak Dewa untuk jalan-jalan, sebuah tugas untuk menulis. Waks, menghancurkan bayangan kesenangan yang sudah menari-nari di otak.
Kami berlatih untuk membuat puisi—dan aku dengan pedenya malah membuat tulisan essay . Beberapa kali aku bercanda ria dengan teman-teman deaf, termasuk ngerjain bang Yit yang tengah fokus meyimpan rumput hijaunya. Mengganggu kak Adi yang tengah menghitung pohon. Berceloteh dengan Bella, si Tomboy yang cakep :v. Dua puluh menit yang berlalu dengan cepat. Selepas jalan-jalan, aku dihukum untuk membaca puisi.
“Akhir Mei atau awal Juni kita tampil, lhoh!”
Aku tersentak, “Tampil apa?”
“Theater dong. Siap-siap ya.” ujarnya.
Ah, embuh, Kak. Seribu alasan sudah kusodorkan, nyatanya nggak ngaruh. Hahaha, pasang tampang jaim dah :v
Aku belajar dari mereka tentang semangat untuk terus berbenah.
Bagaimana melatih kefokusan, yang jujur saja membuat badanku pegal dan berteriak protes ke kak Sadewa. –Menyuarakan temans yang lain, kok -
Bagaimana melatih ekspresi dan anggota tubuh yang lain.
Kutunggu performancenya,
Tunjukkan pada dunia bahwa ke-tuli-bisuan tidak lantas membuat kalian diam ‘berbicara’.
Ada banyak orang disana, terutama aku, yang akan berteriak haru menyaksikan kalian.
Big Prays, always

Posting Komentar