“Maka, jadilah Pegawai Negeri Sipil.
Aku tertegun dengan pernyataan seorang dosen kemaren saat mengisi kuliah. Menegakkan badan untuk menyimak lebih lanjut, kenapa beliau berkata seperti itu. Memang, PNS sudah menjadi salah satu hal yang menaikkan gengsi, aku sudah tahu itu sejak lama. Tetapi kenapa? Bukankah gaji PNS tidak lebih besar daripada uang perolehan seorang penjual mie ayam?
“Di rumah kami, empat orang semuanya PNS. Ibu, suami Ibu dan kedua anak ibu.”
Ooh, pantas. Lantas diskusi mengalir ke arah pendapatan finansial, “Jadilah PNS yang fungsional, bukan hanya struktural. Jika struktural, uang yang didapatkan hanya sebatas gaji pokok.”
Kelas hening, beliau melanjutkan, “PNS fungsional itu guru, dosen. Seorang pengajar akan mendapatkan tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok. Itu belum uang makan, uang lauk pauk...”
Aku mulai memfokuskan mata, beliau terang-terangan bertutur bagaimana luangnya waktu beliau. Bahkan, kadangkala di kampus dari pagi, padahal jam mengajar hanya di sore hari. Lainnya, hanya bengong di kantor, katanya.
Aku semakin mahfum, kenapa banyak orang yang ingin menjadi PNS dengan sederet tunjangan dan ‘terkesan’ enak. Pun, kata beliau (lagi), untuk memberhentikan PNS bukan merupakan hal yang sulit. Itu aku belum menyelidiki tentang tunjangan kesehatan, uang pensiun, dll yang menambah pandangan orang bahwa menjadi PNS itu super duper enak.
Benarkah?

Posting Komentar