ABOUT GABRIELLA

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Mauris sodales, libero vitae sollicitudin pretium, lectus augue tempor turpis, et pharetra velit magna a sapien. Etiam accumsan suscipit justo, id volutpat risus varius sit amet. Curabitur semper mi faucibus arcu hendrerit lobortis. Aenean ut ante vel elit scelerisque sodales vitae et velit. Maecenas suscipit nunc lorem.
Read More
  • Labels
  • Fashion

    JOIN US ON INSTAGRAM

    Recent in Sports

    Design

    3 komentar
    Putus Silaturahmi? No!

    Onak berduri mudah ditemukan di hamparan ladang, di jalanan menuju pegunungan, di balik rimbunan hutan yang menyejukkan hati. Pun begitu dengan onak berduri dalam jalinan ukhuwah, adalah hal yang biasa jika ada marah, kecewa, cemburu dalam lika-liku ukhuwah. Yang tidak biasa adalah menjadikan onak berduri tersebut sebagai kambing hitam untuk menghalalkan pemutusan ukhuwah.

    Wadaw, ternyata bukan hanya pacaran saja yang bisa putus, ya?

    Kalau kakakku menyebut orang yang hobi mutusin ukhuwah sebagai anak kecil, aku justru lebih ekstrem lagi: lebih kecil dari anak kecil. Hihi, kok? Coba gih, perhatikan anak-anak kita atau adik-adik kita, apa mereka pernah memutuskan silaturahmi? Dianiaya sampai berdarah pun, aku yakin, tak ada niat memutus silaturahmi dengan temannya. Mereka jika berantem hanya butuh waktu sekian jam, hari untuk kembali bermain dengan teman-temannya.

    Yang benar saja? Jangan-jangan cuma ngarang nih!

    Pengalaman pribadi nih, temans. Saat aku memasuki bangku TK Nol besar, ada anak tetangga yang terkenal badungnya melempar kerikil ke kepalaku. Kepalaku pun bocor, berdarah! Apa aku dendam? Boro-boro dendam, paling cuma nangis karena kaget ada darah mengucur dari kepala.

    Dan kita?

    Gara-gara dikritik pedas-padahal pedas itu bikin makanan, eh, pribadi kita semakin mantab- langsung tancap gas: aku nggak mau hubungin kamu lagi, nggak akan ada kata maaf untukmu!

    Ada yang begitu? Semoga tidak, jika iya, kudu introspeksi lebih dalam lagi. Termasuk aku.

    Aku selalu dan selalu mengingat ajimat yang kudapat dari bapak. Mau tahu apa? Ssst, ini rahasia antara aku dan kamu, ya! TRESNANANA MUNGSUHMU.

    Ya, cintailah musuhmu. Kata bapak, ini nasehat yang bapak curi dari Bung Karno.

    Oh, no! Thats so difficult for me. Eitt, stop dulu! Aku juga sangat sulit mengaplikasikan ajimat ini, sampai-sampai harus mendaras air mata ketika bibit benci itu tumbuh. Tetapi, ingat janji Robbuna, there is a will there is a way. Dimana ada kemauan, di sana ada jalan.

    Aku sering terpesona, terpukau dengan pancaran wajah Yai, Nyai, ustadz, dan siapa pun yang begitu ceria, cerah seakan tak ada beban yang menghimpitnya. Hatiku berkata, ni orang nggak pernah dapat masalah kali, ya?

    Ternyata, kali ini kata hatiku NOL BESAR. Namanya juga manusia, hidup, pasti ada saja masalah yang menerjang. Bahkan-ini kuketahui saat mereka bercerita kepadaku- masalah, cobaan mereka lebih berat, seimbang dengan keimanannya yang MasyaALLAH. Lalu, apa kuncinya? Selain tawakal ilallah, sadar atau tidak, mereka menggunakan ajimat rahasia kita itu: mencintai musuh.

    Kenal Nabi Muhammad, nggak? Ya jelas dong, beliau kekasih kita kok nggak kenal. Piye tho, Dut? Ups, yang nulis lagi iseng. Hehe

    Pasti kalian tahu, bahkan lebih tahu dari aku ketika komplotan Abu Jahal melempari mbelek lencong-kotoran hewan yang baunya na'udzubillah- saat Kanjeng Rosul sholat. Ingat, kan? Apa coba reaksi kekasih kita ini? Ambil pedang, lalu tebas leher sang pelempar? Tidak! Hidung dan telinga keluar asap, lalu mencaci maki sang terdakwa? Tidak! Justru beliau menenangkan Fatimah, putrinya, yang ingin membalas perlakuan mereka. Baginda tetap saja ramah kepada kaum yang berulang kali jahil itu.

    So, nggak etis jika kita memutus silaturahmi hanya gara-gara hal sepele. Lha wong teladan kita, uswatun khasanah kita, nggak pernah dendam kepada mereka yang jahil, yang berusaha membunuhnya, yang berulang kali memfitnahnya. Masa kita mau membenci? Whuah, padal bukan termasuk orang beriman jika tidak mencintai rosul. Diragukan cinta rosulnya jika tidak mau meneladaninya.

    Asyik, menyambung silaturahmi juga merupakan pintu rejeki. Wuaaa, kurang apalagi coba? Sayang jika kita sia-siakan begitu saja, ya. Lagian putus silaturahmi cuma menyisakan sakit hati, bawaannya nggak nyaman jika ketemu si doi.

    Sambung silaturahmi, yes! Putus, no!

    Salam silaturahmi, temans! :)

    with love,
    Mustika Ungu
    Widi Utami
    Widi Utami
    Pengagum pelangi, penikmat coklat, penggila ungu yang mencoba untu terus berbagi sebagi wujud untuk mensyukuri nikmat Robbuna yang luaar biasa.

    Related Posts

    3 komentar

    Proyek Nulis Buku Bareng mengatakan…
    maaf kesasar :)

    kunjungan aja
    Widi Utami mengatakan…
    wakkk, Pak Heri ini :D
    fairuselvira mengatakan…
    Keeeereeeennnn,,,,di tunggu ttulisan yg lain^^